Nikodemus Membela Yesus

Sabtu, 6 April 2019 – Hari Biasa Pekan IV Prapaskah

59

Yohanes 7:40-53

Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkataan itu, berkata: “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang.” Yang lain berkata: “Ia ini Mesias.” Tetapi yang lain lagi berkata: “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal.” Maka timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia. Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang berani menyentuh-Nya.

Maka penjaga-penjaga itu pergi kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak membawa-Nya?” Jawab penjaga-penjaga itu: “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!” Jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka: “Adakah kamu juga disesatkan? Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi? Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!” Nikodemus, seorang dari mereka, yang dahulu telah datang kepada-Nya, berkata kepada mereka: “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?” Jawab mereka: “Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea.”

Lalu mereka pulang, masing-masing ke rumahnya.

***

Nikodemus adalah seorang Farisi. Ia adalah salah satu dari para pemimpin Yahudi. Orang ini sebelumnya datang kepada Yesus pada waktu malam dan berbicara dengan Yesus tentang kelahiran dari Roh (Yoh. 3:1-21). Kali ini Nikodemus mengajukan keberatan kepada para koleganya, sebab mereka menuduh Yesus sebagai penyesat tetapi tidak mendengarkan pembelaan-Nya terlebih dahulu, juga tidak mengetahui apa yang telah dilakukan-Nya. “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dilakukan-Nya?” demikian ia mempertanyakan.

Melalui keberatan itu, Nikodemus ingin agar apa yang ditulis dalam hukum Taurat dilakukan oleh para pemimpin agama Yahudi sendiri. Hukum Taurat dengan jelas menuliskan bahwa orang tidak boleh dinyatakan bersalah sebelum diberi kesempatan untuk mengajukan pembelaan diri (bdk. Ul. 1:16-17; 17:2-5; 19:15-19). Nikodemus sendiri telah melaksanakan ketentuan tersebut ketika ia pergi kepada Yesus untuk mendengarkan-Nya (Yoh. 3:2). Kini ia meminta koleganya untuk melakukan hal serupa supaya mereka tidak melanggar hukum Taurat dengan menghakimi-Nya sebagai seorang penyesat.

Keberatan Nikodemus tidak mendapatkan tanggapan. Imam-imam kepala dan orang-orang Farisi tidak mau menemui dan berdialog dengan Yesus. Mereka menjatuhkan putusan sebelum mendengarkan-Nya dan mengetahui apa yang dilakukan-Nya. Mereka juga menghina Nikodemus sebagai orang Galilea karena menurut mereka, hanya orang Galilea yang akan mendengarkan Yesus. Dengan demikian, imam-imam kepala dan orang-orang Farisi tersebut tidak melaksanakan apa yang dituntut sendiri oleh hukum Taurat.