Sahabat dan Penolong Terbaik

Kamis, 9 Mei 2019 – Hari Biasa Pekan III Paskah

77

Yohanes 6:44-51

“Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. Ada tertulis dalam kitab nabi-nabi: Dan mereka semua akan diajar oleh Allah. Dan setiap orang, yang telah mendengar dan menerima pengajaran dari Bapa, datang kepada-Ku. Hal itu tidak berarti, bahwa ada orang yang telah melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal.

Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari surga: Barangsiapa makan darinya, ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”

***

Karya Filipus kembali disoroti (bacaan pertama hari ini, Kis. 8:26-40). Kali ini ia mewartakan Injil kepada pejabat istana Etiopia yang jauh-jauh datang ke Yerusalem karena percaya kepada Allah Israel. Kepadanya Filipus memperkenalkan Yesus sebagai sosok yang menderita demi menebus dosa-dosa manusia. Kesaksian ini membuat orang asing itu terkesan. Meski disebut pejabat, sebagai orang yang dikebiri, dia sebenarnya menderita dan terpinggirkan. Solidaritas Yesus dan keberpihakan-Nya kepada kaum hina menyentuh hatinya. Ia pun ingin menjadi murid Yesus, ambil bagian dalam kematian dan kebangkitan-Nya, dengan dibaptis.

Dunia memang penuh dengan dosa, penindasan, dan keterasingan. Yesus hadir untuk menjawab situasi itu. Dialah roti kehidupan yang turun dari surga. Kerelaan-Nya berkurban telah mematahkan kuasa maut. Karena itu, orang yang percaya kepada-Nya dan menyantap tubuh-Nya akan mengalami hidup yang kekal. Sayang, tidak semua orang mau membuka hati untuk-Nya. Kehadiran Yesus mereka tolak, sebab orang-orang ini lebih mencintai maut daripada hidup.

Saya dibaptis sejak bayi. Ini bukan jaminan bahwa iman saya lebih baik daripada rekan-rekan lain yang dibaptis saat dewasa. Buktinya, sejumlah rekan yang dibaptis sejak bayi seperti saya, saat ini malah bergelar “mantan murid Yesus.” Dengan  alasan masing-masing, mereka telah mengucapkan selamat tinggal kepada-Nya. Sedih memang, tetapi ini menunjukkan bahwa percaya kepada Yesus adalah pergulatan seumur hidup, dan baptis adalah langkah awal untuk itu. Saya sendiri sampai saat ini tidak menemukan alasan untuk meninggalkan Yesus. Dalam perjalanan hidup yang sering kali tidak mudah, Dia telah membuktikan bahwa diri-Nya adalah Sahabat dan Penolong terbaik. Percaya kepada-Nya sungguh merupakan anugerah dari Bapa, anugerah terindah yang sangat saya syukuri. Semoga Anda pun merasakan hal yang sama.