Dari Mana Datangnya Dosa?

Jumat, 14 Juni 2019 – Hari Biasa Pekan X

198

Matius 5:27-32

“Kamu telah mendengar firman: Jangan berzina. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa daripada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.

Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan istrinya harus memberi surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan istrinya kecuali karena zina, ia menjadikan istrinya berzina; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zina.”

***

Dari mana datangnya dosa? Dosa masuk ke dalam diri manusia melalui berbagai rupa, tetapi nyatalah bahwa ada entitas di luar diri manusia yang menyebabkan manusia berdosa.

Banyak orang mengalami bahwa mereka melakukan kesalahan karena “tidak sadar.” Mereka seperti didorong untuk melakukan hal-hal yang tidak baik, meskipun mereka sendiri tidak menginginkannya. Ada lagi dosa yang bekerja dengan cara menguatkan dimensi kedagingan dalam benak manusia, seperti: keinginan, nafsu, dan sebagainya. Sabda Tuhan hari ini bahwa “setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya” agaknya mengacu pada asal usul dosa dalam dimensi ini. Daud mengalami hal itu ketika ia merebut Batsyeba dari tangan Uria, suaminya.

Ada juga dosa yang terjadi akibat kuasa iblis yang bekerja terang-terangan. Meski orang yang bersangkutan memberontak, iblis terus mencengkeramnya sehingga orang itu pun dikuasai oleh roh jahat. Petrus pernah berada dalam situasi ini, sampai-sampai Yesus menghardiknya, “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Mat. 16:23).

Ada dosa yang disebut dosa sosial atau dosa horizontal, ada juga dosa vertikal, yakni dosa melawan Tuhan sendiri yang dilakukan baik secara sadar maupun tidak. Marilah kita sadari bersama bahwa kekuatan manusia untuk melawan dosa adalah dengan hidup di dalam Tuhan. Hal ini dinyatakan oleh Paulus dalam bacaan pertama hari ini, Seperti kesaksian Paulus, “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami” (2Kor. 4:7-15).