Kesempurnaan Kasih Allah

Jumat, 28 Juni 2019 – Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus

123

Lukas 15:3-7

Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.”

***

Hari ini kita merayakan Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus. Hari raya ini sebetulnya mengungkapkan kebenaran yang sangat mendasar dari Allah sendiri, yakni bahwa Ia mengasihi umat-Nya secara sangat mendalam melalui pengalaman perjumpaan dengan hati Yesus. Hati Yesus adalah hati Allah yang mengasihi dan mencintai umat-Nya.

Kasih yang luar biasa itu tergambar dalam bacaan Injil hari ini yang berkisah tentang domba yang hilang. Melalui perumpamaan tentang domba yang hilang, Yesus menegaskan bahwa kasih dan cinta Allah itu bersifat sempurna dan tidak berciri ekonomis, kalkulatif, atau didasarkan pada pertimbangan untung dan rugi. Kesetiaan, komitmen, keseriusan, dan kesabaran Allah untuk tetap pergi mencari dan menemukan – bahkan kemudian menggendong, meninggikan, dan meletakkan domba yang hilang itu di atas bahu, lalu membawanya pulang dengan gembira dan penuh semangat – adalah tanda lahiriah dari kesempurnaan cinta-Nya. Allah itu mahabaik dan sungguh-sungguh mengasihi umat-Nya tanpa pandang bulu dan tidak memihak. Ia mencintai semuanya secara adil dan total. Ia mencintai kita semua dengan volume dan kedalaman yang sama.

Semoga pewartaan Lukas tentang cinta dan kebaikan hati Allah ini menjadi dasar keyakinan iman kita semua bahwa Allah mengasihi kita melampaui kategori-kategori manusiawi dan pertimbangan-pertimbangan duniawi.