Tetap Berbuat Baik dan Benar

Selasa, 9 Juli 2019 – Hari Biasa Pekan XIV

87

Matius 9:32-38

Sedang kedua orang buta itu keluar, dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan. Dan setelah setan itu diusir, dapatlah orang bisu itu berkata-kata. Maka heranlah orang banyak, katanya: “Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel.” Tetapi orang Farisi berkata: “Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan.”

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”

***

Tidak semua perbuatan baik dan benar diterima oleh orang lain, sebab banyak orang sering kali lebih memperhatikan siapa yang menjadi pelaku, dan bukan tindakan yang dilakukannya. Di negara kita contoh tentang hal ini ada banyak sekali. Ketika seorang pemimpin berbuat baik, memikirkan kualitas hidup masyarakat, dan rela berkorban bagi kepentingan negara, misalnya, selalu saja ada kelompok yang mencari-cari kesalahan pemimpin tersebut. Sungguh menyedihkan, alasan-alasan yang mereka ungkapkan untuk mempersalahkan orang lain sering kali teramat imajinatif dan tidak logis.

Situasi seperti itu dialami Yesus dalam bacaan Injil hari ini. Yesus menyembuhkan seorang yang kerasukan setan, tetapi masih saja ada yang nyinyir kepada-Nya. Jumlah kaum nyinyir ini mungkin tidak seberapa, tetapi sikap mereka tentunya membuat kita terheran-heran.

Dari kisah tersebut, semoga kita dapat memetik pelajaran bahwa meskipun ada kaum nyinyir, kita harus tetap berani melakukan kebenaran dan kebaikan. Kita perlu setia dan tabah. Yesus sudah mengalami hal itu dan berhasil mengalahkan mereka secara telak melalui kebangkitan-Nya.

Mengapa kita harus tetap berbuat baik dan benar, bahkan dalam situasi yang tidak mendukung kita? Kita harus sadar bahwa kita ini adalah orang-orang yang dibaptis. Dengan menerima rahmat pembaptisan sebagai orang kristiani, secara otomatis kita menerima tugas dan pengutusan untuk menjadi pewarta kebaikan dan kasih Allah. Kita telah dipercaya oleh Tuhan untuk mengemban misi tersebut. Tantangan dalam menjalankan misi adalah ujian yang akan menunjukkan kualitas kita sebagai pribadi yang beriman.

Mari bertanya pada diri kita masing-masing: sanggupkah kita bertahan menghadapi berbagai tantangan yang muncul? Sanggupkah kita terus berbuat baik dan benar di tengah-tengah situasi yang tidak mengenakkan? Masih adakah mental pejuang dalam diri kita dalam situasi tersebut?