Lepaskanlah yang Tidak Perlu

Senin, 19 Agustus 2019 – Hari Biasa Pekan XX

57

Matius 19:16-22

Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” Kata orang itu kepada-Nya: “Perintah yang mana?” Kata Yesus: “Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata orang muda itu kepada-Nya: “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.

***

Kisah tentang orang muda yang ingin memperoleh hidup kekal membuat saya teringat kepada para pendaki gunung. Para pendaki gunung mempunyai prinsip: “Membawa banyak bekal akan membuat pendakian nyaman, membawa sedikit bekal akan membuat sampai ke puncak.”

Kalau seorang pendaki membawa bekal yang banyak dan lengkap, ia tidak perlu khawatir mengalami keadaan yang tidak nyaman. Kelelahan dan ingin beristirahat, ada tenda; kelaparan dan kehausan, ada makanan dan minuman; kedinginan, ada banyak pakaian tebal. Namun, itu semua ada konsekuensinya: perjalanan menjadi berat. Ia bahkan bisa saja kehabisan tenaga sebelum sampai ke puncak.

Sebaliknya, pendaki yang membawa bekal seminimal mungkin sudah memperhitungkan bahwa bekal yang sedikit itu cukup untuk mengantarnya sampai ke puncak dan membawanya pulang. Perjalanannya mungkin serba terbatas dan kurang nyaman, tetapi peluang untuk sampai ke puncak menjadi besar, sebab energinya tidak akan habis terkuras di jalan untuk memikul barang-barang bawaan. Orang ini tahu bahwa mendaki gunung bukanlah soal kenyamanan. Menggapai puncak adalah tujuan yang harus diperjuangkan, dan itulah kenikmatan tertinggi bagi seorang pendaki.

Gambaran tersebut di atas dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bawalah dan penuhilah diri kita dengan hal-hal duniawi, maka hidup akan nyaman, tetapi perjalanan kita menuju tujuan yang sejati akan menjadi berat. Mengapa demikian? Sebab, hati dan pikiran kita hanya akan berkutat pada hal-hal duniawi tersebut. Orang akan kelelahan mengumpulkan harta duniawi. Bisa jadi juga kita kehilangan harapan ketika barang-barang duniawi itu sirna, hilang, atau musnah.

Karena itu, dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengajak kita semua untuk berani melepaskan segala hal duniawi demi mencapai sesuatu yang lebih tinggi. Yesus mengajak kita untuk menyadari bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah sarana untuk menggapai keselamatan. Hal itu harus kita tempatkan sebagaimana mestinya, sebab bagi orang beriman, puncak dari segala perjuangan hidup kita adalah mengalami keselamatan dan kesatuan dengan Allah. Persatuan dengan Allah akan terwujud jika kita berserah dan pasrah terhadap perlindungan-Nya, bukan terhadap hal-hal duniawi yang sifatnya hanya sementara.