Antara Mengasihi Allah dan Mengasihi Sesama

Jumat, 23 Agustus 2019 – Hari Biasa Pekan XX

82

Matius 22:34-40

Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

***

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengingatkan tentang hukum kasih sebagai hukum yang paling utama. Mengasihi Allah sebagai hukum yang pertama sama pentingnya dengan hukum yang kedua, yakni mengasihi sesama. Yesus mengajak kita untuk menyadari bahwa kedua hukum tersebut, yakni antara mengasihi Allah dan mengasihi sesama, memiliki nilai yang sama. Karena itu, semestinya kita memperjuangkan dan menjalankan keduanya secara bersama-sama.

Jadi, mustahil orang mengasihi Allah kalau tindakannya tidak menunjukkan kasih kepada sesama. Aneh juga kalau orang beriman mengaku mengasihi sesama tanpa menunjukkan kasih kepada Allah. Mengasihi Allah tanpa mengasihi sesama adalah omong kosong. Mengasihi sesama tanpa mengasihi Allah adalah tanda orang yang tidak beriman. Demikianlah, bagi orang beriman, mengasihi Allah harus terwujud dalam bentuk kasih kepada sesama, dan kasih kepada sesama harus ditempatkan dalam rangka mengasihi Allah.

Doa dan karya merupakan dua hal yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Kasih kepada Allah terwujud melalui doa dan olah hidup rohani, sedangkan kasih kepada sesama bentuknya adalah pelayanan kasih dan berbagai macam tindakan nyata lainnya. Itulah kriteria kesalehan pengikut Kristus, di mana relasi kasih dengan Allah dan sesama diperjuangkan serta berjalan beriringan.

Oleh karena itu, ketika ada orang yang mengalami kesulitan dan menghadapi persoalan hidup yang nyata, tidak cukup kalau kita hanya berkata, “Baiklah, Anda akan saya doakan.” Tidak cukup kita hanya berdoa ketika ada seorang ibu yang bercerita bahwa ia kesulitan membiayai anaknya yang masuk rumah sakit. Doa juga tidak akan mengenyangkan gelandangan yang sedang kelaparan. Selain berdoa, kita harus mengiringi hal yang baik itu dengan tindakan dan bantuan yang sifatnya konkret, yang sungguh menjawab permasalahan yang ada.