Menyediakan Waktu Bersama Allah

Rabu, 4 September 2019 – Hari Biasa Pekan XXII

74

Lukas 4:38-44

Kemudian Ia meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itu pun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka.

Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: “Engkau adalah Anak Allah.” Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias.

Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus.” Dan Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea.

***

Yesus tidak hanya melakukan karya pelayanan di rumah ibadat, tetapi juga di luar rumah ibadat. Setelah keluar dari rumah ibadat di Nazaret, Yesus pergi ke rumah Simon. Saat itu, ibu mertua Simon demam keras dan penyakit ini mengancam keselamatan hidupnya. “Deman keras” di sini ditekankan untuk menunjukkan bahwa Yesus bisa menyembuhkan penyakit paling serius sekalipun. Ia berkuasa atas kekuatan-kekuatan yang menindas dan menyebabkan manusia sakit.

Meski tidak begitu jelas, penyembuhan ibu mertua Simon Petrus mungkin juga semacam pengusiran roh-roh jahat. Dikatakan pengusiran roh jahat karena Yesus di situ mengusir demam. Apakah Yesus berpikir bahwa demam itu disebabkan oleh kekuatan Iblis? Ataukah Ia hanya mempersonifikasikan penyakit dengan roh-roh jahat? Itu tidak mudah ditentukan.

Mukjizat penyembuhan yang dilakukan Yesus menarik perhatian dan minat banyak orang, sehingga Dia harus mencari tempat yang sunyi untuk berkomunikasi dengan Bapa dan menemukan kekuatan lagi dalam menjalankan misi-Nya. Demikianlah di tengah-tengah kesibukan pelayanan-Nya, Yesus senantiasa menyediakan waktu untuk sendirian agar Ia bisa  mendengarkan rencana dan kehendak Bapa-Nya.

Kita sering kali menempatkan pelayanan dan pekerjaan kita di atas relasi pribadi kita dengan Allah. Hal itu membuat kita pada akhirnya merasa hampa dan menyalahkan Tuhan. Praktik yang dilakukan Yesus – pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa – harus menjadi model dan contoh bagi kita bahwa persekutuan dengan Bapa harus mendahului karya dan pelayanan kita. Kita harus menempatkan waktu pribadi dengan Allah di atas segala hal lain. Jika kita belum melakukannya, mengapa kita tidak memulainya sekarang? Mari kita menyisihkan waktu sejenak untuk dihabiskan bersama Allah. Kita perlu dan harus menjadwalkannya supaya tidak diambil alih oleh hal-hal penting lainnya.