Panggilan Rasul Petrus

Kamis, 5 September 2019 – Hari Biasa Pekan XXII

56

Lukas 5:1-11

Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dariku, karena aku ini seorang berdosa.” Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.

***

Selesai mengajar orang banyak di Danau Genezaret, Yesus dengan penuh kuasa mengarahkan Petrus untuk bertolak ke tempat yang lebih dalam dan menebarkan jala untuk menangkap ikan. Arahan ini ditaati Petrus meski kontras dengan pengalamannya, sebab sepanjang malam ia sudah bekerja keras tetapi tidak berhasil menangkap apa-apa. Tanggapan Petrus menunjukkan kesediaan dan kepatuhan dirinya untuk mempercayai kata-kata Yesus.

Setelah mengalami mukjizat karena mendapat ikan yang sangat banyak, Petrus bersujud di depan kaki Yesus. Sambil berlutut, ia mengakui dosa-dosanya kepada Yesus yang kini dihormatinya sebagai Tuhan. Petrus meminta Yesus untuk pergi dari hadapannya “karena aku ini seorang berdosa.” Dengan mengakui dosa-dosanya, Petrus secara tidak langsung mengakui kekudusan Allah yang hadir dalam diri Yesus. Namun, Yesus tidak mengikuti permintaan Petrus. Ia memiliki misi khusus bagi Petrus, yakni menjadikannya sebagai penjala manusia. Panggilan ini menentukan masa depan Petrus. Dalam kerangka narasi Injil Lukas, panggilan ini mengantisipasi peran penting yang kelak akan dimainkan Petrus dalam memperkuat rasul-rasul lain dan melawan Iblis.

Panggilan untuk menjadi penjala manusia ditanggapi Petrus dengan segera. Dia membawa perahunya ke tepi pantai dan meninggalkan segala sesuatu untuk mengikuti Yesus. Tanggapan ini menjadi model bagi setiap orang yang ingin menjadi murid Yesus. Siapa pun yang ingin menjadi murid Yesus harus bersikap lepas bebas supaya dapat mengikuti-Nya secara total.

Sebagai murid-murid Yesus, kita juga dipanggil untuk meninggalkan atau melepaskan segala sesuatu yang dapat menjadi penghalang bagi kita untuk bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah. Kita harus hidup lepas bebas dari harta kekayaan duniawi, sehingga kita bisa mengambil bagian dalam gaya hidup Yesus dan bisa menjadi penjala manusia. Sudahkah kita melakukannya?