Lepas Bebas dan Mengandalkan Tuhan

Minggu, 8 September 2019 – Hari Minggu Biasa XXIII

70

Lukas 14:25-33

Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.

Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.”

***

Yesus mengajak setiap orang yang mau mengikuti-Nya untuk berpikir serius. Mengucapkan niat itu mudah, tetapi menjalaninya adalah hal yang sulit dan butuh komitmen. Karena itu, Yesus menantang para murid-Nya: pikir dulu sebelum bertindak! Jangan sampai mereka seperti orang yang mau membangun menara, tetapi tidak membuat anggaran terlebih dahulu untuk melihat apakah uangnya cukup atau tidak. Jangan sampai pula mereka seperti raja yang mau berperang, tetapi tidak mempertimbangkan dahulu apakah pasukannya cukup melawan musuh atau tidak.

Yesus dalam bacaan Injil hari ini menegaskan syarat bagi siapa pun yang ingin mengikut Dia. Orang itu harus berani melepaskan diri dari segala miliknya. Bukan itu saja, mengenai relasi dekat dengan orang-orang yang disayangi, Yesus berkata, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”

Untuk menjadi murid-Nya, Yesus menuntut satu syarat, yaitu sikap lepas bebas. Sikap lepas bebas adalah keberanian untuk mengandalkan Tuhan. Orang tidak terikat dan mengikatkan diri pada kelekatan-kelekatan tidak teratur yang mampu membelenggu dan menghalangi dirinya pada tujuan utama hidup manusia, yaitu demi kemuliaan Tuhan. Kepemilikan – bisa berbentuk apa pun, misalnya uang, barang, perhiasan, tanah, orang terdekat, dan lain-lain – bisa membelenggu kita, menyita hati dan pikiran kita, sehingga gagal mencapai tujuan utama hidup kita. Hati kita direnggut olehnya, sehingga kita tidak bersikap lepas bebas, tidak pula mengandalkan Tuhan.

Mengandalkan Tuhan artinya membiarkan hidup kita dipimpin oleh rencana dan kehendak-Nya. Sungguh, mempunyai sikap lepas bebas dan mengandalkan Tuhan bukanlah hal yang mudah. Karena itu, Yesus berkata, “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Namun, hendaknya hal itu tidak lalu membuat kita menjadi ragu. Yesus Kristus telah lebih dahulu mengajarkan kepada kita bagaimana memiliki sikap lepas bebas dan membiarkan kehendak Allah meraja kehidupan ini. Salib yang berat telah Ia panggul dengan taat dan setia. Dengan itu, Ia meringankan beban yang ditanggung oleh kita semua. Yang perlu kita lakukan adalah berjalan dengan tekun bersama-Nya.