Yesus dan Para Pendosa

Kamis, 19 September 2019 – Hari Biasa Pekan XXIV

48

Lukas 7:36-50

Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa.” Lalu Yesus berkata kepadanya: “Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.” Sahut Simon: “Katakanlah, Guru.”

“Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?” Jawab Simon: “Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.” Kata Yesus kepadanya: “Betul pendapatmu itu.” Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: “Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.” Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: “Dosamu telah diampuni.” Dan mereka, yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: “Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?” Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!”

***

Kalau kita mendengar kata “pendosa” atau “orang berdosa,” siapa yang langsung kita bayangkan? Siapa yang langsung kita ingat? Apakah wajah pasangan yang telah menyakiti hati kita karena selingkuh? Apakah wajah para koruptor yang telah mengeruk uang negara untuk kepentingan mereka sendiri? Apakah wajah para pelaku kejahatan sadis yang muncul dalam berita-berita di televisi?

Dialog antara Yesus dan Simon, orang Farisi yang mengundang-Nya makan, menarik sekali. Yesus membandingkan apa yang dilakukan oleh perempuan yang dicap berdosa itu dengan apa yang tidak dilakukan oleh Simon. Simon tidak memberi air untuk membasuh kaki; perempuan itu membasahi kaki Yesus dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Simon tidak menyambut Yesus dengan ciuman; perempuan itu tiada henti menciumi kaki Yesus. Simon tidak meminyaki kepala Yesus dengan minyak; perempuan itu meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi.

Dengan perbandingan-perbandingan tersebut, Yesus menegur Simon yang telah memberi cap perempuan itu sebagai pendosa. Perempuan itu melakukan perbuatan kasih lebih banyak daripada dirinya. Dengan demikian, dosa Simon bisa jadi lebih banyak karena perbuatan kasihnya lebih sedikit. Simon menyebut perempuan itu sebagai pendosa, padahal nyatanya sebutan itu lebih cocok diterapkan pada dirinya sendiri.

Ketika mendengar kata “pendosa,” kita harus sadar bahwa kita pun termasuk di dalamnya. Karena itu, jika mendengar kata “pendosa” atau “orang berdosa” dan yang pertama muncul dalam benak kita adalah orang lain, kita sebenarnya telah melakukan dosa pembenaran diri. Ketika Yesus mengatakan, “Aku datang untuk memanggil orang yang berdosa,” sesungguhnya Ia tidak menunjuk pada orang-orang tertentu yang kita bayangkan di atas. Yang Ia tunjuk adalah kita sendiri karena kita semua adalah orang-orang yang berdosa.

Jadi, siapa yang kita ingat ketika kita mendengar kata “pendosa” atau “orang berdosa”? Jika yang pertama muncul dalam benak kita adalah orang lain, berhati-hatilah.