Kesempatan Kedua

Senin, 23 September 2019 – Peringatan Wajib Santo Padre Pio

52

Ezra 1:1-6

Pada tahun pertama zaman Koresh, raja negeri Persia, TUHAN menggerakkan hati Koresh, raja Persia itu untuk menggenapkan firman yang diucapkan oleh Yeremia, sehingga disiarkan di seluruh kerajaan Koresh secara lisan dan tulisan pengumuman ini: “Beginilah perintah Koresh, raja Persia: Segala kerajaan di bumi telah dikaruniakan kepadaku oleh TUHAN, Allah semesta langit. Ia menugaskan aku untuk mendirikan rumah bagi-Nya di Yerusalem, yang terletak di Yehuda. Siapa di antara kamu termasuk umat-Nya, Allahnya menyertainya! Biarlah ia berangkat pulang ke Yerusalem, yang terletak di Yehuda, dan mendirikan rumah TUHAN. Allah Israel, yakni Allah yang diam di Yerusalem. Dan setiap orang yang tertinggal, di mana pun ia ada sebagai pendatang, harus disokong oleh penduduk setempat dengan perak dan emas, harta benda dan ternak, di samping persembahan sukarela bagi rumah Allah yang ada di Yerusalem.”

Maka berkemaslah kepala-kepala kaum keluarga orang Yehuda dan orang Benyamin, serta para imam dan orang-orang Lewi, yakni setiap orang yang hatinya digerakkan Allah untuk berangkat pulang dan mendirikan rumah TUHAN yang ada di Yerusalem. Dan segala orang di sekeliling mereka membantu mereka dengan barang-barang perak, dengan emas, harta benda dan ternak dan dengan pemberian yang indah-indah, selain dari segala sesuatu yang dipersembahkan dengan sukarela.

***

Pembuangan bangsa Israel yang dilakukan oleh bangsa Babel tahun 587 SM mendatangkan trauma tersendiri bagi mereka. Orang Israel sungguh-sungguh merasa gagal dalam hal ketaatan kepada Allah. Akibatnya, mereka harus menjalani hukuman yang sekaligus mencabut identitas mereka sebagai umat yang bermartabat. Pembuangan membuat mereka kehilangan rumah, tanah, dan juga Bait Allah. Mereka berakhir sebagai bangsa yang kalah, lalu dipaksa tinggal di negeri orang-orang yang menaklukkan mereka.

Krisis iman melanda orang-orang Israel di pembuangan. Mereka menyangka bahwa Allah sudah habis, sudah meninggalkan mereka, dan tidak lagi berpihak kepada umat-Nya. Dalam situasi yang sangat tidak mudah ini, para nabi di pembuangan tampil untuk mendampingi umat Allah. Mereka berkarya dan bekerja keras untuk mempertahankan semangat umat, agar iman orang-orang ini jangan sampai gugur. Para nabi menegaskan, masih ada harapan di masa depan kalau umat mau memperbaiki hidup mereka.

Akhirnya harapan itu benar-benar terwujud. Koresh, raja Persia, menaklukkan kerajaan Babel, lalu mengizinkan orang-orang Israel pulang ke tanah air mereka. Tidak berhenti sampai di situ, Koresh bahkan menuliskan sebuah mandat agar orang-orang Israel ini ditopang oleh penduduk setempat di mana pun mereka tinggal sebagai orang asing. Kembali dari pembuangan Babel adalah sebuah kesempatan kedua bagi orang Israel untuk menata kembali identitas mereka sebagai bangsa pilihan Allah. Mereka pun kemudian menekankan ketaatan iman terhadap Tuhan, Allah mereka, sebagai satu-satunya Allah yang harus mereka sembah.