Para Pembawa Damai

Jumat, 18 Oktober 2019 – Pesta Santo Lukas

69

Lukas 10:1-9

Kemudian dari itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.”

***

Penginjil Lukas yang kita rayakan hari ini memberikan bahan refleksi yang sungguh apik bagi kita, khususnya dalam rangka merenungkan diri kita sebagai murid-murid Yesus. Lukas menggambarkan bahwa setiap murid yang diutus harus mengusahakan dan membawa damai, baik bagi siapa pun yang mereka jumpai maupun bagi diri mereka sendiri. Itulah sikap dasar yang dikehendaki Yesus agar dimiliki oleh murid-murid-Nya.

Apa itu damai? Pertama, saya mengibaratkan damai di sini sebagai sikap “ingat dan waspada.” Setiap murid Kristus, pekerja di ladang Tuhan, harus bersikap demikian. Kita harus ingat bahwa kita hidup seperti seorang utusan yang dikirim ke tengah-tengah kawanan serigala. Oleh sebab itu, menjadi pribadi yang diutus berarti menuntut kita untuk belajar bagaimana memahami kerentanan dan keutamaan diri kita yang selalu dikuatkan oleh sang Gembala Utama, yakni Kristus sendiri. Memang, setiap pengutusan akan selalu disertai oleh ketakutan dan kebingungan. Namun, ingatlah bahwa di sana, saat kita membawa Kristus, kedamaian juga akan selalu hadir.

Kedua, damai tidak datang melalui apa yang kita bawa atau yang kita miliki, tidak juga melalui kesuksesan-kesuksesan material. Itu sebabnya Yesus bersabda, “Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut.” Sebaliknya, damai senantiasa hadir kepada siapa pun yang memiliki kebebasan batin.

Ketiga, damai Kristus selayaknya hadir dalam diri kita sendiri. Sebab, bagaimana mungkin kita mewartakan damai, kalau ternyata damai Kristus tidak hadir dalam diri kita?

Saudara-saudari sekalian, sebagai umat Allah, kita semua memiliki kewajiban untuk menjadi pembawa damai. Mulailah dari diri kita masing-masing. Damai dimulai dari diri kita sendiri, yakni ketika kita bersatu dengan cinta Kristus secara intim dan mendalam. Dengan demikian, Kristus sendirilah yang berkarya di dalam diri dan hidup kita.