Menjadi Yerusalem Baru

Kamis, 31 Oktober 2019 – Hari Biasa Pekan XXX

47

Lukas 13:31-35

Pada waktu itu datanglah beberapa orang Farisi dan berkata kepada Yesus: “Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau.” Jawab Yesus kepada mereka: “Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai. Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem. Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti  induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi  kamu tidak mau. Sesungguhnya rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kamu tidak akan melihat Aku lagi hingga pada saat kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!”

***

Hebat rasanya jika seseorang bisa mempunyai banyak kedudukan. Ia bisa berbuat apa saja dengan memanfaatkan berbagai posisi yang dimilikinya. Ini belum tentu bermakna negatif. Yang bersangkutan tetap mempunyai dua pilihan: bersikap mengayomi karena menempatkan diri sebagai seorang pelayan, atau menindas karena melihat dirinya sebagai penguasa.

Mempunyai kedudukan dan kekuasaan tetapi malah menggunakannya untuk mengancam orang lain, itulah yang keliru di mata Yesus. Ketika melihat bahwa kecenderungan itu terjadi di hadapan-Nya, dengan tegas Ia melakukan perlawanan. Yesus sama sekali tidak takut kepada Herodes. Bagi-Nya, orang-orang seperti itu justru harus diluruskan agar tidak membawa kesesatan ke tengah-tengah masyarakat. Yesus juga bermaksud membenahi orang-orang yang bergelimang harta dan menikmati kesenangan duniawi. Itulah inti kritik Yesus terhadap Yerusalem. Yesus menghendaki adanya Yerusalem baru.

Di saat kita mempunyai kedudukan dan kekuasaan, pakailah itu sebagai kesempatan untuk melayani. Pakailah kesempatan itu juga untuk membentuk karakter kita menjadi pribadi yang pluralis dan militan secara positif. Selain itu, kita dapat memanfaatkan kedudukan yang kita miliki sebagai kesempatan untuk membentuk orang lain menjadi pribadi yang berintegritas. Hal yang sebaliknya harus kita hindari. Jangan sampai kita menyalahgunakan posisi kita untuk menindas, menakut-nakuti, mengancam, dan bahkan membuat orang lain celaka. Jadikan hidup kita kota yang dirindukan Yesus, yakni Yerusalem baru!