Memanfaatkan Hal Duniawi untuk Kepentingan Surgawi

Jumat, 8 November 2019 – Hari Biasa Pekan XXXI

49

Lukas 16:1-8

Dan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang.”

***

Untuk memahami secara tepat perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur, pertama-tama kita harus berpegang pada pernyataan dasar berikut: perumpamaan ini tidak bermaksud memuji dan mendukung perbuatan-perbuatan yang tidak jujur.

Dalam perjalanan ke Yerusalem, Yesus berkali-kali menegaskan bahwa orang-orang yang mengikut Dia harus bisa berkomitmen. Mereka dilarang berpamitan kepada orang tua (Luk. 9:61-62), harus “membenci” kaum kerabat (Luk. 14:26), harus memikul salib (Luk. 14:27), dan harus melepaskan diri dari segala harta milik (Luk. 14:33). Dengan itu mau dikatakan bahwa para murid tidak boleh bersikap mendua hati. Orang yang masih terikat kepada hal-hal duniawi tidak akan bisa mengabdi Allah sepenuhnya, padahal saat kedatangan Allah sudah dekat.

Namun, mungkinkah komitmen semacam itu dapat diwujudkan? Dalam kenyataan, hidup di dunia tidaklah mudah. Banyak godaan menghampiri kita, sehingga kita tidak bisa mengabdi Allah dengan sepenuh hati. Salah satu godaan yang paling menarik datang dari uang dan harta kekayaan. Menanggapi hal itu, Yesus menceritakan perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur. Ia bermaksud menunjukkan bahwa kalau kita mau, godaan dari uang dan harta kekayaan pasti dapat kita atasi.

Alkisah, seorang bendahara yang ketahuan tidak jujur hendak dipecat oleh majikannya. Mulailah ia merancang strategi agar masa depannya tetap terjamin. Si bendahara segera memutuskan untuk tidak bergantung lagi kepada uang, tetapi kepada persahabatan. Ia memanggil orang-orang yang berutang kepada tuannya. Yang berutang seratus tempayan minyak diubahnya menjadi lima puluh tempayan, yang berutang seratus pikul gandum diubahnya menjadi delapan puluh pikul. Pengurangan utang itu pastinya membuat orang-orang tersebut girang dan sangat berterima kasih kepadanya. Suatu hari nanti, kalau dia butuh bantuan, mereka pasti akan memberikannya dengan senang hati.

Pengurangan utang yang dilakukan bendahara itu jangan dilihat sebagai suatu kecurangan. Harus ditafsirkan bahwa orang-orang itu memang berutang masing-masing lima puluh tempayan minyak dan delapan puluh pikul gandum. Bendahara itu dulu menggelembungkan utang mereka demi keuntungan pribadi. Yang ia lakukan setelah tidak lagi menganggap uang sebagai sesuatu yang paling penting adalah menghapus jatah keuntungan bagi dirinya sendiri. Ia membuat orang-orang itu membayar utang mereka dalam jumlah yang semestinya.

Karena itu, bendahara yang dulu tidak jujur sekarang sudah bertindak jujur. Bukan hanya bertobat, bendahara itu juga bersikap cerdik. Ia sadar bahwa uang yang dahulu diandalkannya sekarang tidak bisa menolongnya lagi. Ditinggalkannya uang untuk berpaling kepada hal lain yang dapat menjamin hidupnya, yakni ikatan persahabatan.

Menjadi jelas bahwa perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur disampaikan dalam rangka mengajak para murid Yesus untuk fokus pada satu hal, yakni pengabdian kepada Allah dengan segenap jiwa dan raga. Pengabdian para murid tidak boleh setengah-setengah: setengah kepada Tuhan, setengah kepada harta. Sebaliknya, para murid hendaknya tahu menentukan prioritas, yakni menomorsatukan Allah. Bagaimana dengan harta kekayaan? Uang dan harta kekayaan tidak pada tempatnya menjadi sosok yang disembah-sembah. Letakkan uang pada posisi yang tepat, yakni sebagai sarana.

Dalam hidup ini kita mempunyai banyak kebutuhan dan karenanya kita memang butuh uang. Jangan salah sangka, penginjil Lukas tidak menganggap uang sebagai barang najis yang harus dihindari. Ia sebenarnya berpendapat bahwa uang dan harta hendaknya disikapi dengan tepat. Menurutnya, baiklah kita bekerja keras mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan kita, tetapi dengan tetap menyadari bahwa uang bukanlah segalanya. Alih-alih terikat pada uang, hendaknya uang itu kita “peralat,” dalam arti kita jadikan sarana untuk kebaikan bersama. Berbagilah, sehingga uang dan kekayaan yang kita miliki dapat turut mengangkat kesejahteraan masyarakat di sekitar kita.

Agaknya, itulah yang disebut cerdik: memanfaatkan hal-hal duniawi untuk kepentingan surgawi.