Jangan Ragu untuk Mengasihi Orang Lain

Senin, 6 Januari 2020 – Hari Biasa Sesudah Penampakan Tuhan

35

Matius 4:12-17, 23-25

Tetapi waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: “Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, — bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang.” Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!”

Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu. Maka tersiarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita pelbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka. Maka orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka datang dari Galilea dan dari Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari seberang Yordan.

***

Panggilan seorang kristiani adalah untuk percaya kepada Yesus Kristus dan untuk saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan-Nya kepada kita. Percaya berarti mengandalkan sepenuhnya hidup dan perjuangan kepada Kristus. Ia benar-benar menjadi andalan kita dalam setiap langkah dan situasi. Dalam Yesus, jalan kebaikan dan jalan kebenaran menuju kebahagiaan selalu terbuka. Yesuslah jaminan keselamatan kita.

Meskipun demikian, itu tidak berarti bahwa kita akan terbebas sepenuhnya dari kesulitan atau masalah dalam kehidupan. Namun, kepercayaan kepada Yesus menjadi kekuatan, dasar, dan spirit kita dalam menjalani kehidupan, terutama ketika berjumpa dengan kesulitan. Iman itulah yang akan memampukan kita untuk mengatasi segala masalah yang ada, sehingga kita mampu berjalan ke depan dengan lebih tenang, tidak mudah dikuasai oleh emosi atau keputusasaan.

Selanjutnya, kita juga dipanggil untuk saling mengasihi. Dalam sikap mengasihi terkandung kerelaan, sikap saling percaya, bahkan sukacita. Tentu saja kasih yang dimaksud di sini bukan semata-mata kasih manusiawi. Dasarnya adalah teladan Yesus yang mengasihi manusia. Ia mengasihi manusia sebagai perwujudan ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa yang bermaksud menghadirkan keselamatan bagi kita semua.

Jika kita menuruti kehendak Allah, kita diam di dalam Dia dan Allah diam di dalam diri kita. Kehadiran Allah di dalam diri kita akan memampukan kita untuk mengasihi orang lain. Mengasihi dengan cara Allah mengasihi adalah perjuangan kita sebagai murid-murid Yesus. Jika hal ini dapat dilakukan, makin nyata dan terang-benderanglah hidup kita sebagai citra Allah. Mari kita membulatkan hati untuk percaya kepada Yesus. Jangan ragu untuk mengasihi orang lain!