Allah Berkarya dalam Diri Setiap Orang

Rabu, 5 Februari 2020 – Peringatan Wajib Santa Agata

105

Markus 6:1-6

Kemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia. Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata: “Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.” Ia tidak dapat mengadakan satu mujizat pun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka. Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka.

Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar.

***

Banyak orang menilai orang lain dengan mempertimbangkan asal usul dan latar belakang orang tersebut. Kadang-kadang pendapat dan ide-ide yang cemerlang tidak diterima gara-gara yang menyampaikannya ternyata orang kecil atau orang yang selama ini diabaikan, diremehkan, dan dianggap tidak penting.

Sebagai contoh, ada seorang katekis yang mendapat giliran membawakan renungan. Renungan sang katekis sangat bagus dan menyentuh hati. Namun, di situ ada orang yang mengenalnya dan tahu asal usul katekis tersebut. Ia lalu memberi komentar, “Katekis ini kan anak keluarga yang berantakan itu.” Yang lain menyambung, “Dia kan masa lalunya tidak baik.” Sinisme semacam ini pada akhirnya membuat hal-hal positif yang disampaikan sang katekis menjadi hilang tanpa berbekas.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menghadapi pengalaman seperti itu. Ia tidak diterima karena berasal dari keluarga yang sederhana. “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria?” demikian orang-orang itu menolak diri-Nya. Yang menarik, Yesus tidak membela diri, tidak pula menjelaskan siapa diri-Nya. Ia menyadari bahwa seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di daerah asalnya sendiri. Akan tetapi, yang rugi sebenarnya masyarakat sendiri. Karena penolakan itu, Yesus tidak dapat mengadakan mukjizat dan penyembuhan bagi orang-orang sakit yang ada di situ.

Sering kali kita menghargai orang lain dengan ukuran atau syarat-syarat tertentu, misalnya dengan mempertimbangkan orang tua, kekayaan, atau jabatan orang tersebut. Sikap ini tidak tepat, sebab Tuhan berkarya dalam diri setiap orang. Ia bisa memakai setiap orang untuk menjadi alat-Nya; Ia bisa memakai setiap orang untuk menyalurkan rahmat-Nya.

Oleh karena itu, marilah membuka mata hati kita, agar kita dapat menyadari kehadiran dan karya Roh Kudus di sekitar kita. Roh Kudus berkarya secara bebas di dalam dan melalui setiap pribadi. Marilah mengubah cara pandang kita. Hargailah setiap orang apa pun latar orang itu. Melalui orang-orang sederhana pun Allah berkenan menyatakan kemuliaan-Nya.