Antara Adat Istiadat Manusia dan Perintah Allah

Selasa, 11 Februari 2020 – Hari Biasa Pekan V

75

Markus 7:1-13

Pada suatu kali serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga. Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?” Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.”

Yesus berkata pula kepada mereka: “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri. Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban — yaitu persembahan kepada Allah –, maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatu pun untuk bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan.”

***

Orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem mengkritik Yesus karena tindakan para murid. Kritikan ini dilandasi pandangan bahwa seorang guru bertanggung jawab atas sikap dan tindakan para muridnya. Yesus dikritik karena murid-murid-Nya tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang. Mereka makan tanpa terlebih dahulu menyucikan diri secara ritual dengan mencuci tangan. Jadi, cuci tangan di sini tidak ada hubungannya dengan persoalan kebersihan, tetapi dengan kemurnian secara ritual.

Bagaimana Yesus menanggapi kritikan itu? Dia menyatakan bahwa tuntutan untuk membasuh tangan sebelum makan adalah adat istiadat manusia, bukan perintah dan firman Allah. Dikatakan adat istiadat manusia karena hukum Taurat tidak menuntut hal itu. Pembasuhan tangan dan kaki hanya dituntut oleh Taurat bagi para imam sebelum mereka memasuki Kemah Pertemuan dan mempersembahkan kurban (Kel. 30:19-21; 40:12, 30-32; Im. 22:1-6). Mereka dituntut juga untuk bersih secara ritual sebelum makan hewan kurban yang menjadi bagian mereka (Bil. 18:11-13).

Yesus lalu meneruskan tanggapan-Nya dengan mengecam orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu sebagai orang-orang munafik. Mereka memutarbalikkan hukum Taurat untuk tujuan egois mereka sendiri. Bagi mereka, Yesus mengutip dan menerapkan perkataan Nabi Yesaya, “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya tetap jauh dari Aku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, karena ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan dan adat istiadat manusia kamu pegang” (bdk. Yes. 29:31). Dengan itu, Yesus menggarisbawahi dua hal, yakni bahwa mereka memuliakan Allah hanya di bibir, dan bahwa mereka meninggalkan perintah Allah demi adat istiadat manusia. Yesus mengkritik karena adat istiadat manusia ditempatkan seolah-olah berasal dari Allah, sementara perintah Allah sendiri malah diabaikan. Hukum mereka taati secara harfiah, tetapi mereka gagal untuk mencintai dan menaati perintah Allah dengan hati mereka.