Iman Seorang Perempuan Asing

Kamis, 13 Februari 2020 – Hari Biasa Pekan V

65

Markus 7:24-30

Lalu Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan. Malah seorang ibu, yang anaknya perempuan kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan tersungkur di depan kaki-Nya. Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya. Lalu Yesus berkata kepadanya: “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Tetapi perempuan itu menjawab: “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.” Maka kata Yesus kepada perempuan itu: “Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu.” Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar.

***

Seorang perempuan Siro-Fenisia datang kepada Yesus di Tirus dan sujud di depan kaki-Nya. Dengan bersujud di depan kaki Yesus, perempuan ini menggemakan apa yang juga telah dilakukan oleh laki-laki Gerasa yang kerasukan roh-roh jahat (5:6), kepala rumah ibadat bernama Yairus (5:22), dan seorang perempuan yang dua belas tahun menderita pendarahan (5:33). Seperti Yairus, perempuan Siro-Fenisia ini datang dan memohon kepada Yesus untuk mengusir setan dari putrinya.

Apa tanggapan Yesus terhadap perempuan itu? Yesus menyampaikan sebuah analogi yang sekilas dapat melukai perasaan. Ia berkata, “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Istilah “anak-anak” jelas mengacu kepada orang Yahudi, sedangkan “anjing” mengacu kepada orang bukan Yahudi atau bangsa-bangsa lain. Dalam Perjanjian Lama, orang Israel sering disebut sebagai “anak-anak Allah” (Kel. 4:22-23; Ul. 14:1). Orang Yahudi tidak melihat anjing sebagai binatang peliharaan yang jinak, tetapi sebagai binatang liar dan pemakan bangkai sehingga dianggap najis (1Raj. 14:11; 21:19-24; Mzm. 22:16).

Analogi yang disampaikan Yesus itu melukai perasaan banyak pembaca Kitab Suci masa kini. Yesus dianggap tidak berperasaan karena membandingkan seorang anak perempuan yang sedang menderita dengan seekor anjing. Apalagi, ibu anak itu tidak seperti orang Farisi yang bermaksud menjebak-Nya. Ibu ini sedih dan putus asa melihat penderitaan anaknya. Meskipun demikian, perasaan ibu ini mendengar perkataan Yesus sebenarnya tidak terlalu tampak. Ia malah membenarkan perkataan itu, lalu berkata, “Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.”

Perkataan itu menyiratkan pesan bahwa ibu tersebut meyakini adanya secercah harapan bagi bangsa-bangsa lain. Ia sadar bahwa dirinya harus sabar menunggu giliran, sebab yang diprioritaskan adalah orang Yahudi. Yesus sendiri dengan jelas menyatakan bahwa perhatian utama-Nya adalah untuk melayani umat Israel. Hal ini antara lain terungkap dalam pemilihan dua belas murid yang mewakili kedua belas suku Israel, dan dalam penugasan mereka untuk bermisi pertama-tama kepada orang Yahudi.

Melalui kisah perempuan Siro-Fenisia ini kita dipanggil untuk memiliki iman yang gigih dan kerendahan hati. Meskipun hanya Injil Matius yang secara eksplisit menyebut iman perempuan ini yang besar (Mat. 15:28), iman tersebut dalam Injil Markus tersirat dalam perilaku dan tindakannya. Dia mendekati Yesus karena percaya bahwa Yesus mampu mengusir setan dari putrinya. Iman yang besar ini tidak goyah oleh penolakan awal Yesus terhadap permohoannya.