Yang Tuli Dijadikan-Nya Mendengar

Jumat, 13 Februari 2020 – Peringatan Wajib Santo Sirilus

68

Markus 7:31-37

Kemudian Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis. Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu. Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: “Efata!”, artinya: Terbukalah! Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya. Mereka takjub dan tercengang dan berkata: “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.”

***

Mukjizat yang dialami oleh seorang yang tuli dan gagap ini dipandang sebagai mukjizat penyembuhan yang kedua dari tiga mukjizat yang dibuat Yesus di wilayah Galilea (Mrk. 7:24 – 8:10). Mukjizat ini terjadi di daerah Dekapolis, yang menunjukkan bahwa pewartaan Kerajaan Allah yang disampaikan Yesus diperluas, sehingga mencakup pula orang-orang bukan Yahudi. Keselamatan Allah ditawarkan oleh Yesus kepada semua orang, termasuk kepada orang-orang bukan Yahudi yang saat itu dianggap sebagai orang-orang najis.

Ketika Yesus tiba di wilayah Dekapolis, orang-orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan gagap untuk disembuhkan. Yesus menyembuhkan orang ini dengan menggunakan ludah. Ia meludahi jari tangan-Nya, lalu menyentuh telinga dan lidah orang itu sambil menengadah ke langit yang menunjukkan sikap doa. Tindakan penyembuhan itu dilengkapi dengan seruan penuh kuasa, “Efata!” (artinya: terbukalah). Seketika orang tuli dan gagap itu sembuh.  Dia kini bisa mendengarkan dan berbicara dengan jelas.

Kisah mukjizat penyembuhan yang kita dengarkan hari ini bukan hanya berkaitan dengan kondisi fisik, melainkan juga spiritual. Dalam dunia masa kini, kita sangat mudah dibuat tuli oleh berbagai kebisingan yang terjadi di sekitar kita. Hal itu membuat kita gagal mendengarkan bisikan suara Tuhan. Bagi sebagian orang, kebisingan itu berasal dari upaya untuk mencari kenikmatan hidup secara fisik. Yang lain mengalami kebisingan karena sibuk mencari dan menumpuk harta kekayaan. Semuanya itu membuat orang lupa untuk mendengarkan suara dan firman Tuhan. Jangan sampai kita membiarkan diri untuk larut dalam berbagai kebisingan hidup, sebab hanya relasi dengan Allah saja yang dapat membawa kepenuhan dan kedamaian hidup. Itulah sebabnya, kita perlu meluangkan waktu untuk menjauh dari berbagai kebisingan agar dapat merefleksikan tujuan dan makna hidup kita.