Meminta Tanda

Senin, 17 Februari 2020 – Hari Biasa Pekan VI

53

Markus 8:11-13

Lalu muncullah orang-orang Farisi dan bersoal jawab dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari-Nya suatu tanda dari surga. Maka mengeluhlah Ia dalam hati-Nya dan berkata: “Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.” Ia meninggalkan mereka; Ia naik pula ke perahu dan bertolak ke seberang.

***

Dalam situasi tanpa harapan, tanda-tanda iman dalam diri seseorang biasanya tampak sangat jelas. Saat itu, orang akan berserah kepada Tuhan, lebih tekun berdoa, rajin ke gereja, banyak memberi sedekah, dan sebagainya. Akan tetapi dalam situasi yang tenang, nyaman, makmur, bisa jadi orang malah mempertanyakan di mana peran Tuhan dalam hidupnya. Kehadiran Tuhan tidak dirasakan, sehingga orang ingin melihat tanda kuasa-Nya sebagai bukti bahwa Ia ada dan berkuasa atas manusia.

Dalam Injil hari ini, alih-alih berusaha membuka diri untuk menerima sabda Tuhan, orang-orang Farisi malah menantang Yesus untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan indra mereka. Mereka menuntut tanda. Karena itu, mereka meminta Yesus untuk membuat mukjizat yang spektakuler. Dengan ini, mereka sama saja mencari solusi praktis dan instan untuk menjawab kompleksitas kehidupan.

Namun, cara yang ditempuh Yesus bukanlah cara manusia. Kehadiran Tuhan terasa sangat kuat justru ketika Dia tampak tersembunyi dan begitu jauh dari kita. Kita justru merasakan kehadiran Tuhan terutama pada saat-saat kita mengalami penghinaan dan ketiadaan. Rasul Paulus berkata, “Jika aku lemah, maka aku kuat!” Pertobatan dan kesempatan untuk meraih kemurahan Tuhan justru terjadi ketika kita dalam keadaan berdosa.

Mari kita berusaha untuk memahami tanda-tanda kehadiran Tuhan di antara mereka yang tidak bersuara, mereka yang kita tolak, dan mereka yang kita lihat sebagai gangguan dalam kehidupan ini. Semoga kita tidak hanya melihat tanda-tanda, tetapi juga mengalami pertemuan dengan Yesus secara pribadi.