Doa yang Rendah Hati

Sabtu, 21 Maret 2020 – Hari Biasa Pekan III Prapaskah

61

Lukas 18:9-14

Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

***

Meski cukup familiar, perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai ini harus kita baca dengan hati-hati. Memang doa si pemungut cukai berkenan di hadapan Allah dan ia sendiri “pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah”. Namun, perlu dicatat bahwa dengan ini Lukas tidak sedang menganjurkan kita untuk menjadi pendosa agar doa kita diterima Allah. Jangan sampai setelah membaca perumpamaan ini ada yang berkata, “Mari kita berbuat dosa banyak-banyak karena doa orang berdosa ternyata paling manjur!”

Dengan menampilkan kontras antara orang Farisi dan pemungut cukai, Lukas ingin menasihati kita sekalian bagaimana bersikap secara pantas di hadapan Allah. Kata kuncinya adalah “rendah hati.” Sungguh baik bahwa dalam hidup sehari-hari kita bertingkah laku benar, tidak berbuat dosa, mengulurkan tangan kepada orang-orang miskin, juga mempraktikkan kesalehan-kesalehan dalam hidup beragama, seperti misalnya berpuasa. Namun, jangan lalu hal-hal positif itu rusak gara-gara kita jadikan sebagai sumber kesombongan, sampai-sampai perlu didaftar dan dilaporkan kepada Allah dalam doa, seakan-akan itulah jasa-jasa kita kepada-Nya. Akibatnya, doa kita penuh dengan deretan prestasi, tidak memberi tempat kepada Allah. 

Doa tidak membutuhkan kalimat-kalimat yang panjang serta indah. Kadang-kadang doa bahkan tidak membutuhkan kalimat sama sekali! Belajar dari kisah si pemungut cukai, yang paling penting dalam doa kiranya adalah hati yang pasrah dan terbuka. Di hadapan Dia yang Mahabesar, manusia sesaleh apa pun bukanlah siapa-siapa. Jadi, alangkah baiknya jika kita hadapkan saja kepada-Nya kelemahan dan kekurangan kita, sambil memanjatkan permohonan agar Dia mengasihani kita dan memberikan anugerah melimpah kepada kita.