Hidup yang Kekal

Kamis, 30 April 2020 – Hari Biasa Pekan III Paskah

79

Yohanes 6:44-51

“Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. Ada tertulis dalam kitab nabi-nabi: Dan mereka semua akan diajar oleh Allah. Dan setiap orang, yang telah mendengar dan menerima pengajaran dari Bapa, datang kepada-Ku. Hal itu tidak berarti, bahwa ada orang yang telah melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal.

Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari surga: Barangsiapa makan darinya, ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”

***

Ungkapan yang paling digemari Penginjil Yohanes untuk memahami makna keselamatan adalah “hidup yang kekal.” Ungkapan ini menunjuk pada bagian dalam hidup ilahi yang diberikan Yesus kepada orang yang percaya kepada-Nya. Berkaitan dengan itu, Yesus menyatakan diri-Nya sebagai “roti hidup” yang menumbuhkan dan memelihara kehidupan kekal dalam diri kita.

Roti hidup yang diturunkan Bapa dari surga bukanlah seperti manna di padang gurun. Meskipun bermanfaat, manna hanya memelihara hidup jasmani yang sifatnya fana. Berbeda dengan itu, Yesus, Sang Roti Hidup, memberikan hidup kekal kepada kita yang percaya kepada-Nya. Sebagai Anak, Ia telah melihat Bapa. Sebagai Firman, pada mulanya Ia bersama Bapa. Yesus menjadi manusia untuk menyatakan pribadi Bapa sendiri.

Banyak orang tidak percaya kepada Yesus yang berasal dari Allah. Hendaknya kita tidak bersikap demikian, tetapi selalu membuka hati kita terhadap sapaan dan kehadiran-Nya. Hendaknya kita tetap mendengarkan dan belajar dari Allah yang berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada kita. Semoga kita selalu memiliki hati yang terbuka untuk mendengarkan panggilan Allah.