Penderitaan dan Bunda Maria

Jumat, 22 Mei 2020 – Hari Biasa Pekan VI Paskah

31

Yohanes 16:20-23a

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu darimu. Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku.”

***

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berbicara tentang penderitaan dan sukacita yang akan dialami oleh murid-murid-Nya. Menarik bahwa Yesus mengatakan itu dengan analogi seorang perempuan. Ia berkata, “Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia.” Kiranya dengan ini Yesus mau menyampaikan pesan bahwa penderitaan dan sukacita merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam hidup manusia.

Karena Mei adalah Bulan Maria, baiklah kita mengambil Bunda Maria sebagai contoh bahwa dalam derita pasti akan ada sukacita. Kesedihan yang akan dialami Maria telah dinubuatkan oleh Simeon. Ia berkata, “Suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri” (Luk. 2:35). Inilah yang kemudian dialami Maria berkaitan dengan Yesus yang kemudian berkeliling ke mana-mana untuk mewartakan Kerajaan Allah. Puncak kesedihan Maria adalah ketika dia mendampingi sang Putra dalam perjalanan-Nya menyongsong kematian. Secara langsung Maria menyaksikan penderitaan dan kematian Putranya yang terkasih. 

Setiap orang dalam hidupnya pasti mengalami penderitaan dan kesedihan, terlebih saat ini karena wabah Covid-19 tengah merajalela di mana-mana. Banyak orang sakit, kehilangan pekerjaan, kesulitan keuangan, atau ditinggal selamanya oleh orang yang dicintai. Dalam situasi demikian, mungkin ada yang berpikir bahwa Tuhan tidak sedang menaungi kita atau bahkan telah meninggalkan kita. Tentu saja pendapat itu tidak benar. Mari kita melihat kembali perjalanan hidup Bunda Maria. Setelah berbagai penderitaan ia lalui dengan rendah hati dan penuh iman, ia kini berbahagia sebagai Ratu Surgawi. Ia memperoleh sukacita abadi dengan sempurna di surga.

Sembari membaca perikop Injil hari ini, mari kita merenungkan juga penderitaan yang sedang kita alami. Bacaan Injil hari ini mengungkapkan janji Allah kepada mereka yang menanggung penderitaan dengan rendah hati, sabar, dan penuh iman. Jangan biarkan penderitaan hidup ini membuat kita jatuh dalam keputusasaan. Ketahuilah bahwa kalau kita setia berada di jalan Tuhan, hasil akhirnya adalah sukacita yang kekal! Peganglah harapan itu dan berjalanlah terus sampai garis akhir.

Marilah kita berdoa: “Tuhan, kami menyerahkan segala penderitaan dan beban kami kepada-Mu. Kami persatukan itu semua dengan salib-Mu. Kami percaya bahwa Engkau akan selalu berada bersama kami dan berjalan bersama kami sepanjang hidup. Bimbinglah kami agar terus melangkahkan kaki menuju sukacita-Mu yang kekal. Yesus, kami serahkan diri kami kepada-Mu. Amin.”