Berbagi sebagai Cara Hidup

Rabu, 27 Mei 2020 – Hari Biasa Pekan VII Paskah

41

Kisah Para Rasul 20:28-38

“Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri. Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka. Sebab itu berjaga-jagalah dan ingatlah, bahwa aku tiga tahun lamanya, siang malam, dengan tiada berhenti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata. Dan sekarang aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada firman kasih karunia-Nya, yang berkuasa membangun kamu dan menganugerahkan kepada kamu bagian yang ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskan-Nya. Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapa pun juga. Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku. Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.” Sesudah mengucapkan kata-kata itu Paulus berlutut dan berdoa bersama-sama dengan mereka semua. Maka menangislah mereka semua tersedu-sedu dan sambil memeluk Paulus, mereka berulang-ulang mencium dia. Mereka sangat berdukacita, terlebih-lebih karena ia katakan, bahwa mereka tidak akan melihat mukanya lagi. Lalu mereka mengantar dia ke kapal.

***

Dalam bacaan pertama hari ini, Paulus merasa bahwa sesudah dia pergi, jemaat yang selama ini didampinginya akan mendapat tantangan dan hambatan. Berbagai macam kemungkinan buruk bisa saja terjadi. Karena itu, sambil dia sendiri berdoa bagi mereka, Paulus mengajak para penatua untuk setia menjaga jemaat. Sama seperti Yesus mendoakan murid-murid-Nya, Paulus juga memohonkan rahmat keteguhan iman bagi jemaat kepada Allah. Dengan mendoakan orang lain, Paulus mengajarkan tentang arti memberi diri. Ia berkata, “Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.”

Memberi, berbagi, atau menyumbang merupakan keutamaan hidup. Ada yang memberi dari kelebihannya, memberi sebagai ungkapan solidaritas, ada pula yang memberi dari kekurangannya. Apa pun itu, memberi harus didasari oleh keikhlasan. Kalau orang memberi tanpa disertai dengan keikhlasan, yang terjadi adalah kesia-siaan. Memberi jangan dilihat sebagai kesempatan mendapat pujian, tetapi lakukanlah itu dengan hati yang tulus. Paulus hari ini mengajarkan hal itu kepada kita. Ia mengabdikan dirinya bagi jemaat sampai akhir. Meskipun berpisah, ia tetap menyertai mereka dalam doa.

Kita patut bersyukur bahwa di masa pandemi ini, peran serta Gereja sangat terasa. Gereja mampu mewartakan karunia Allah melalui tindakan berbagi dan memberi tanpa bersikap pilih kasih atau membeda-bedakan. Inilah peran Gereja bagi dunia. Solidaritas tidak berhenti pada tahap refleksi saja, tetapi menjadi sebuah gerakan bersama. Atas nama cinta kasih dan ketulusan hati, Gereja mampu mewujudkan kehidupan yang indah sebagaimana yang diharapkan oleh Yesus. Semoga apa yang telah diwujudkan oleh Gereja ini tidak hanya terjadi karena ada pandemi saja, tetapi menjadi cara hidup dan tradisi yang terus bertahan. Sebab, dengan berbagi, Gereja semakin menampakkan kesejatiannya.