Taatilah Allah, Taatilah Pemerintah

Selasa, 2 Juni 2020 – Hari Biasa Pekan IX

43

Markus 12:13-17

Kemudian disuruh beberapa orang Farisi dan Herodian kepada Yesus untuk menjerat Dia dengan suatu pertanyaan. Orang-orang itu datang dan berkata kepada-Nya: “Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar jalan Allah dengan segala kejujuran. Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?” Tetapi Yesus mengetahui kemunafikan mereka, lalu berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mencobai Aku? Bawalah ke mari suatu dinar supaya Kulihat!” Lalu mereka bawa. Maka Ia bertanya kepada mereka: “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka: “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” Mereka sangat heran mendengar Dia.

***

Imam-imam kepala, ahli Taurat, dan tua-tua Yahudi jengkel sekali karena menjadi sasaran sindiran Yesus (Mrk. 12:1-12). Mereka lalu berdaya upaya menjatuhkan-Nya. Dukungan datang dari kaum Farisi dan pendukung Herodes. Mereka berniat memancing Yesus agar mengeluarkan pernyataan yang merugikan diri-Nya sendiri di depan orang banyak. Hasilnya? Malah mereka yang terheran-heran.

Mereka heran karena: (1) Yesus tidak terbuai oleh sanjungan-sanjungan yang mereka lontarkan; (2) Yesus mengetahui maksud dan tujuan mereka yang sebenarnya; (3) Yesus bisa mengatasi perangkap yang mereka pasang; dan (4) Yesus membawa diskusi ke level yang lebih tinggi.

Soal pajak, Yesus tidak terjebak untuk menyatakan secara eksplisit apakah Ia mendukung atau menolak. Dengan menunjukkan uang satu dinar kepada Yesus, para lawan sebenarnya sudah menjawab pertanyaan mereka sendiri. Mereka memakai uang Romawi. Itu berarti mereka mengakui pemerintahan kaisar dengan segala konsekuensinya, termasuk di antaranya membayar pajak.

Yesus berkata, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” Dengan berkata demikian, Yesus tidak bermaksud menyejajarkan kedua hal itu. Bagi-Nya, kewajiban terhadap Allah tetaplah yang paling utama. Perkataan itu dikemukakan justru untuk menyindir para lawan yang tidak menghormati Allah dengan menolak kehadiran-Nya dalam diri Yesus.

Meskipun demikian, tidak salah kalau perkataan Yesus tersebut dimanfaatkan untuk membina umat agar melaksanakan kewajiban sebagai warga negara dengan sebaik-baiknya. Sebagai rakyat, kita harus bekerja sama dengan pemerintah agar tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara dapat tercapai. Membayar pajak adalah salah satu contohnya.

Contoh lain yang relevan dengan situasi kita sekarang misalnya ketaatan kepada pemerintah ketika diminta untuk menjaga jarak dan menghindari kerumunan guna mencegah penyebaran wabah corona. Sungguh menyedihkan, kaum beragama dalam hal ini banyak yang gagal untuk bersikap taat. Banyak dari kita yang malah menunjukkan sikap menantang dan keras kepala. Ini karena kegiatan ibadah turut terdampak, sehingga banyak yang tersinggung seolah-olah kebebasan untuk berbakti kepada Tuhan dihalang-halangi. Pemerintah dipertentangkan dengan Allah, sampai-sampai ada yang berkarta, “Kita harus lebih takut kepada Allah daripada kepada pemerintah.”

Jadi, siapa yang salah kalau wabah yang mengerikan ini terus saja berkembang dan meminta banyak korban jiwa? Tidak perlu menunjuk pihak lain, sebab mungkin kita sendiri penyebabnya dengan bersikap seenaknya sendiri dan susah diatur. Hendaknya kita sadari bahwa sikap seperti itu bukanlah sikap hamba-hamba Allah yang sejati, melainkan sikap orang-orang yang sedang memamerkan kesombongan rohani.