Kasih yang Mengikat

Minggu, 7 Juni 2020 – Hari Raya Tritunggal Mahakudus

63

Yohanes 3:16-18

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.”

***

Kita semua pasti menyukai kata “kasih,” dan menginginkan kasih untuk kita miliki serta kita rasakan. Kasih memampukan kita melihat keindahan hidup. Kasih memampukan kita berbagi kehidupan dengan yang lain. Segala perbuatan baik bersumber dari kasih, sebab adalah kasih yang menggerakkan kita untuk memperhatikan dan membantu orang lain. Kasih juga yang memampukan kita untuk bersikap peduli dan rela berkorban bagi sesama, bahkan sampai mati.

Hari ini kita merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Iman akan Tritunggal Mahakudus mengajarkan kita tentang satu Allah yang mewujud dalam tiga diri: Bapa Pencipta, Putra Penyelamat, dan Roh Kudus sang Penyerta hidup kita. Dalam bacaan Injil hari ini dikatakan bahwa Allah begitu mengasihi ciptaan-Nya, sehingga Ia mengutus Putra yang dikasihi-Nya untuk menebus manusia agar tidak binasa oleh dosa. Allah sebenarnya tidak memiliki kewajiban untuk melepaskan manusia dari dosa, karena sejak awal penciptaan Ia sudah memberikan rambu-rambu agar manusia terhindar dari dosa. Namun, karena bersikap bebal, manusia kemudian jatuh dalam dosa.

Meskipun demikian, kedosaan manusia tidak mengurangi kasih-Nya. Agar manusia tetap menjadi milik-Nya, Bapa mengutus Putra-Nya dan merelakan-Nya mati. Inilah bukti kasih yang paling besar, yakni merelakan kehidupan, menyerahkan nyawa demi yang dikasihi. Kasih Allah bahkan tidak terbatas hanya sampai di situ. Dia juga tidak ingin manusia yang begitu dikasihi-Nya hidup tanpa pendampingan. Karena itu, Dia mengutus Roh Kudus untuk menemani kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Karena kasih yang begitu besar, Allah senantiasa mendampingi kita dalam seluruh perjalanan hidup kita.

Setelah kita menerima kasih Allah yang begitu besar, sekarang kita memiliki tanggung jawab untuk membagi kasih itu kepada sesama. Kita diajak untuk mengasihi sesama seperti Bapa mengasihi kita. Sebagai tanda bahwa kita telah ditebus berkat kematian Yesus di salib, kita juga diajak untuk membagi rahmat penebusan itu dengan saling berbagi kehidupan. Sebagai tanda bahwa kita dikaruniai Roh Kudus yang menyertai perjalanan hidup kita, kita diajak untuk menguatkan sesama, terutama yang lemah. Dasar semuanya itu adalah kasih. Kasih mengikat kita dengan Allah. Kasih juga menyatukan kita dengan sesama.