Bantuan Rohani

Jumat, 26 Juni 2020 – Hari Biasa Pekan XII

32

Matius 8:1-4

Setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat menahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga tahirlah orang itu dari kustanya. Lalu Yesus berkata kepadanya: “Ingatlah, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah persembahan yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka.”

***

Seorang penderita kusta harus menanggung penderitaan ganda. Secara fisik tubuhnya kotor, bahkan tidak sempurna lagi. Keadaan fisik ini membuat penderita kusta harus disingkirkan dan dikucilkan dari masyarakat. Lebih dari itu, penyakit ini dipandang sebagai hukuman Tuhan atas orang berdosa. Dalam hukum agama Yahudi, penderita kusta dipandang najis. Artinya, orang itu secara ritual kotor dan tidak layak menghadap Tuhan dalam ibadah. Karena beratnya penderitaan ini, setiap orang kusta pasti ingin sembuh.

Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus. Rupanya ia yakin bahwa Yesus dapat menyembuhkannya kalau Ia mau. Sambil sujud menyembah, orang kusta itu berkata, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat menahirkan aku.” Yesus pun mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata, “Aku mau, jadilah tahir.” Seketika itu juga tahirlah orang itu dari kustanya. Cara Yesus menyembuhkan orang kusta itu sangat sederhana, hanya dengan satu kalimat. Cara ini jauh berbeda dari cara Elisa menyembuhkan Naaman. Ia meminta orang Siria itu berendam di Sungai Yordan sebanyak tujuh kali. Mukjizat memang bukan bukti keilahian Yesus, tetapi menjadi sarana pewahyuan-Nya. Kata-kata-Nya berkuasa; apa yang dikatakan-Nya sungguh-sungguh menjadi kenyataan.

Kalau penderita kusta telah sembuh, ia harus mempersembahkan kurban untuk penahirannya. Upacara penahiran ini membuatnya bersih kembali dan layak untuk beribadah. Para imam yang memegang otoritas dalam bidang ibadah adalah pihak yang berwenang untuk menyatakan bahwa orang itu tahir. Karena itulah Yesus menyuruh orang kusta tersebut untuk menunjukkan diri kepada imam dan mempersembahkan kurban.

Dengan cara demikian, Ia meminta orang itu memenuhi tuntutan Hukum Taurat. Yesus sering dituduh melanggar Taurat, tetapi dalam peristiwa ini tampak bahwa Ia tetap menaati Taurat dan mengajak orang untuk menaatinya pula. Yang sebenarnya dikecam oleh Yesus adalah pelaksanaan Taurat secara keliru sehingga membuat orang menjadi munafik.

Dari tindakan Yesus yang menahirkan orang kusta itu, kita belajar bagaimana sikap Yesus ketika melihat orang mengalami penderitaan. Ia membebaskan orang itu dari penderitaan, sehingga dapat menjalani kehidupan secara wajar. Dengan menahirkan orang kusta itu, Yesus membuatnya dapat diterima kembali oleh masyarakat. Lebih dari itu, Yesus membuatnya bisa kembali menghadap Tuhan dalam ibadah. Bantuan kepada sesama juga dapat dilakukan dengan memperhatikan orang-orang yang jauh dari Tuhan. Para pengikut Yesus juga dipanggil untuk memperhatikan orang-orang seperti itu dan membawanya kembali kepada Tuhan, sehingga mereka dekat dengan Tuhan dan hidup dalam perlindungan-Nya.