Iman yang Menyelamatkan Sesama

Sabtu, 27 Juni 2020 – Hari Biasa Pekan XII

35

Matius 8:5-17

Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya: “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.” Yesus berkata kepadanya: “Aku akan datang menyembuhkannya.” Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.

Setibanya di rumah Petrus, Yesus pun melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Maka dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Ia pun bangunlah dan melayani Dia. Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.”

***

Seorang perwira datang menemui Yesus. Perwira ini rupanya memiliki jabatan tinggi dalam dinas ketentaraan Romawi. Jelas bahwa dia bukan orang Yahudi, dan dalam pandangan orang Yahudi, dia ini seorang kafir. Sekalipun termasuk pejabat pemerintahan penjajah, perwira itu tidak bersikap sebagai penjajah. Orang-orang Yahudi di kota itu juga memandangnya demikian. Mereka merasa bahwa perwira itu mengasihi bangsa mereka, bahkan ia membangun rumah ibadat mereka.

Mengherankan bahwa perwira itu datang kepada Yesus “hanya” untuk memohon agar Yesus menyembuhkan hambanya yang sedang sakit. Yesus tidak bertanya apa-apa. Ia langsung menyanggupi permintaan perwira itu dengan menyatakan bahwa Ia akan datang menyembuhkan hambanya. Namun, sang perwira menyatakan bahwa ia tidak layak menerima Yesus di rumahnya karena ia adalah seorang asing, sementara Yesus, guru dan tabib, dalam pandangannya adalah “seorang besar” di kalangan masyarakat Yahudi.

Perwira itu menyatakan bahwa Yesus cukup mengucapkan sepatah kata saja dan hambanya pasti akan sembuh. Ia demikian yakin akan kekuatan perkataan. Pengalamannya dalam dinas ketentaraan mengajarkan kepadanya kehebatan kekuatan perkataan yang diucapkan oleh seorang yang berkuasa. Kata-katanya sebagai perwira ditaati oleh prajuritnya; kata-katanya sebagai tuan juga ditaati oleh hambanya. Sebagai perwira, ia berkuasa atas para prajurit, dan sebagai tuan, ia berkuasa atas para hambanya. Betapa lebih berkuasa perkataan Yesus. Perwira itu yakin akan kuasa hebat yang dimiliki Yesus. Barangkali ia sering mendengar bahwa Yesus mengadakan banyak mukjizat. Ia tidak mengatakan bahwa Yesus memiliki suatu kuasa ilahi atau kuasa Tuhan. Barangkali ia malah tidak mengetahui kuasa apa yang dimiliki Yesus. Yang jelas, ia yakin bahwa Yesus memiliki kuasa yang hebat, sehingga sepatah kata dari Yesus cukup untuk menyembuhkan hambanya yang sedang sakit.

Yesus memuji iman perwira itu di hadapan banyak orang. Iman orang ini sungguh luar biasa dan belum pernah Yesus temukan di antara orang Israel. Namun, perwira itu bukan penganut agama Yahudi sekalipun ia bersimpati pada agama Yahudi. Ia pun tidak mengenal Yesus sebagai Allah. Lalu, iman macam apa yang dipuji oleh Yesus? Perwira itu mengakui adanya suatu kuasa dalam diri Yesus, dan ia menyerahkan diri sepenuhnya pada kuasa itu. Ia percaya bahwa dengan kuasa itu, Yesus dapat menyembuhkan hambanya, dan ia pun mempercayakannya kepada Yesus. Penyerahan diri perwira itulah yang oleh Yesus dipuji sebagai iman yang besar, yang belum pernah Ia temukan di antara orang-orang Yahudi. Akhirnya, Yesus menyatakan kepada perwira itu, “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Saat itu juga, hambanya sembuh. Hamba itu sembuh berkat iman tuannya. Iman perwira itulah yang menyembuhkan dia.

Dari pengalaman perjumpaan perwira itu dengan Yesus, kita dapat melihat bahwa orang-orang yang paling dekat dengan kitalah yang pertama-tama perlu mendapat perhatian kita. Aneh bila orang berusaha melakukan hal-hal besar, tetapi orang-orang yang paling dekat dengannya dan yang paling berjasa baginya malah luput dari perhatian. Kepedulian terhadap sesama tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan materi. Iman dan doa kita mempunyai nilai yang jauh lebih berharga daripada materi. Iman dan doa merupakan bantuan atau wujud kepedulian yang dapat kita berikan sebagai orang beriman. Iman dan doa mempunyai daya yang amat besar, yang bahkan dapat melakukan hal-hal yang secara manusiawi tidak mungkin.