Menjadi Penuai yang Baik

Selasa, 7 Juli 2020 – Hari Biasa Pekan XIV

42

Matius 9:32-38

Sedang kedua orang buta itu keluar, dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan. Dan setelah setan itu diusir, dapatlah orang bisu itu berkata-kata. Maka heranlah orang banyak, katanya: “Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel.” Tetapi orang Farisi berkata: “Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan.”

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”

***

Bacaan Injil hari ini terdiri atas dua bagian. Bagian pertama berkisah tentang penyembuhan seorang bisu yang kerasukan setan, mukjizat yang memancing kekaguman orang-orang banyak, tetapi juga kritik pedas dari orang-orang Farisi. Bagian kedua berkisah tentang Yesus yang, setelah berkeliling dan mengajar di berbagai tempat, merasa prihatin kepada orang banyak. Ia iba karena mereka ini telantar bagaikan domba yang tidak bergembala.

Sheri L. Dew, seorang penulis Amerika, pernah berujar, “Para pemimpin sejati memahami bahwa kepemimpinan bukanlah tentang mereka, tetapi tentang mereka yang dilayani. Ini bukan tentang meninggikan diri mereka sendiri, tetapi tentang mengangkat orang lain.” Pernyataan itu kiranya selaras dengan semangat pelayanan yang dicontohkan Yesus.  Selama berkarya di dunia, Yesus telah menjadi komunikator terbaik dalam menyampaikan pesan Kerajaan Allah kepada banyak orang. Perkataan dan perbuatan-Nya telah mengomunikasikan rencana keselamatan Allah kepada umat-Nya. Bagi Yesus, sumber kekuatan dalam pelayanan adalah Allah, sementara motivasi utama dalam melayani adalah semangat belas kasih.

Hari ini Yesus memberi kita teladan untuk tidak menyia-nyiakan waktu. Ia pergi dari kota ke kota untuk memberitakan Kerajaan Allah, mengajar di rumah-rumah ibadat, mengadakan mukjizat penyembuhan, dan melakukan segala perbuatan baik. Ia melihat situasi yang memprihatinkan di mana umat ditelantarkan seperti domba tanpa gembala. Mereka tidak berdaya, bermasalah, dan ditinggalkan. Sebenarnya di sana ada pemimpin-pemimpin seperti para imam, tua-tua, orang Farisi, serta pejabat kemasyarakatan dan keagamaan lainnya. Namun, mereka ini belum terbukti sebagai gembala yang baik. Alih-alih menjadi pemimpin yang merangkul semua orang, mereka justru lebih menjaga kepentingan sendiri dan mengorbankan sesama yang lain.

Bagaimana dengan kita? Yesus, sang Gembala Baik, ingin berkolaborasi dengan kita semua dalam menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia. Dengan seluruh talenta dan kemampuan yang kita miliki, Yesus memanggil kita untuk membawa domba-domba-Nya ke dalam kerajaan-Nya yang penuh kasih dan damai. Kita dipanggil untuk merangkul semua orang yang menginginkan hubungan mendalam dengan Yesus. Kita dipanggil untuk menunjukkan kepada mereka semangat Injil dalam kata dan perbuatan. Kita semua sudah dianugerahi talenta dan kemampuan. Tuhan pun sudah menempatkan kita di tempat di mana Dia membutuhkan kita. Karena itu, sebenarnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak memenuhi komitmen pada misi yang ditugaskan Kristus kepada kita.