Pergulatan Orang Beriman

Minggu, 9 Agustus 2020 – Hari Minggu Biasa XIX

42

Matius 14:22-33

Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: “Itu hantu!”, lalu berteriak-teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Kata Yesus: “Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!” Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Lalu mereka naik ke perahu dan angin pun redalah. Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”

***

Ketiga bacaan yang ditawarkan dalam perayaan Ekaristi hari ini berbicara tentang pergulatan orang beriman yang harus dilalui dengan tidak mudah. Dimulai dari bacaan pertama (1Raj. 19:9a, 11-13a), yang berkisah tentang pengalaman Nabi Elia dalam menjalankan perutusannya sebagai utusan Allah. Elia sering kali mengalami penolakan, pertentangan, bahkan permusuhan dari orang-orang sebangsa yang tidak suka mendengarkan nubuat-nubuatnya. Dia harus membawa Israel, yang sedang terlena oleh dosa dan kesalahan, kepada pertobatan. Dia dimusuhi oleh bangsanya sendiri, dilawan oleh nabi-nabi palsu. Dalam pergulatannya itu, Nabi Elia mendapat penghiburan dari Tuhan.

Pergulatan yang sama juga dialami oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma (bacaan kedua, Rm. 9:1-5). Dengan gamblang, Paulus mengatakan bahwa di dalam hatinya ada sukacita sekaligus kesedihan. Dia harus bergulat dengan kenyataan bahwa bangsanya sendiri – yang adalah bangsa pilihan Allah, sehingga seharusnya menerima kemuliaan-Nya – justru menolak karya keselamatan yang ditawarkan oleh Allah dalam diri Yesus Kristus. Namun, di bagian akhir, Paulus berdiri kokoh dalam keyakinannya. Itulah yang menjadi kekuatan dalam dirinya.

Sementara itu, bacaan Injil hari ini (Mat. 14:22-33) menggambarkan Petrus yang mengalami pergulatan luar biasa. Ia hampir tenggelam karena terombang-ambing gelombang. Mukjizat penggandaan roti yang baru saja disaksikan seolah tidak berbicara banyak ketika Petrus dan murid-murid yang lain sedang berada dalam kekalutan. Meski awalnya Petrus mencoba memberanikan diri sampai bisa berjalan di atas air, ketakutannya ternyata lebih besar. Ia kurang percaya, sehingga perlahan-lahan tenggelam. Uluran tangan Yesus menyelamatkan Petrus. Kita bisa melihat transformasi dalam kisah ini. Para murid awalnya takut, tetapi pada akhirnya mereka sampai pada pengakuan bersama bahwa Yesus sungguh Anak Allah.