Tuhan Mahabijaksana

Kamis, 15 Oktober 2020 – Peringatan Wajib Santa Teresia dari Yesus

44

Lukas 11:47-54

“Celakalah kamu, sebab kamu membangun makam nabi-nabi, tetapi nenek moyangmu telah membunuh mereka. Dengan demikian kamu mengaku, bahwa kamu membenarkan perbuatan-perbuatan nenek moyangmu, sebab mereka telah membunuh nabi-nabi itu dan kamu membangun makamnya. Sebab itu hikmat Allah berkata: Aku akan mengutus kepada mereka nabi-nabi dan rasul-rasul dan separuh dari antara nabi-nabi dan rasul-rasul itu akan mereka bunuh dan mereka aniaya, supaya dari angkatan ini dituntut darah semua nabi yang telah tertumpah sejak dunia dijadikan, mulai dari darah Habel sampai kepada darah Zakharia yang telah dibunuh di antara mezbah dan Rumah Allah. Bahkan, Aku berkata kepadamu: Semuanya itu akan dituntut dari angkatan ini. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke dalam kamu halang-halangi.”

Dan setelah Yesus berangkat dari tempat itu, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terus-menerus mengintai dan membanjiri-Nya dengan rupa-rupa soal. Untuk itu mereka berusaha memancing-Nya, supaya mereka dapat menangkap-Nya berdasarkan sesuatu yang diucapkan-Nya.

***

Hari ini kita merayakan Peringatan Wajib Santa Teresia dari Yesus, disebut juga Santa Teresia dari Avila. Pada usia dua puluh tahun, Teresia masuk Ordo Karmel di Avila. Ia menjalani hidup membiara secara ketat. Setelah mengalami kesembuhan secara ajaib dari penyakitnya, saat berusia empat puluh tahun, Teresia memutuskan untuk membaktikan sisa hidupnya guna pembaruan tata hidup ordonya. Ia memperbarui tata cara hidup kontemplatif dalam kelompok kecil sehingga menjadi lebih ketat. Karena perannya ini, Paus Paulus VI memberikan gelar “pujangga Gereja” kepadanya pada 21 September 1971. Karena pengalaman-pengalaman mistik yang dialaminya, Teresia juga dihormati Gereja sebagai seorang guru yang berpengaruh dalam hidup rohani.

Teresia dari Yesus telah menjalani hidup kontemplatif secara ketat dengan melulu mempersembahkan diri sebagai pujian bagi Tuhan. Dengan cara demikian, kebijaksanaan rohani terpancar dari dirinya. Ia menepati ajaran Yesus, yakni agar hidup melekat pada Dia, sang Pokok Anggur. Bila kita melekat pada-Nya, kita akan menghasilkan buah-buah kebijaksanaan.

Tentu saja dalam diri manusia selalu ada kelemahan dan kerapuhan. Akan tetapi, kita tidak perlu ragu dan cemas, sebab Roh Kudus akan menuntun dan menguatkan kita, sehingga kita senantiasa terarah pada Tuhan, Allah yang Mahabijaksana.