Hidup dalam Kesetiaan

Jumat, 27 November 2020 – Hari Biasa Pekan XXXIV

64

Lukas 21:29-33

Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: “Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah, bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.”

***

Kita bersyukur karena Gereja kita mempunyai orang-orang kudus, baik yang dibeatifikasi maupun yang tidak, baik yang terkenal maupun yang tidak terlalu dikenal. Dari mereka, kita bisa banyak belajar untuk setia kepada Yesus dengan cara hidup kita. Kesetiaan ini tidak harus dengan melakukan hal-hal yang hebat, tetapi bisa juga melalui hal-hal yang kecil dan sederhana.

Orang-orang kudus tidak hanya hidup di zaman lampau, tidak harus pula mengalami penganiayaan dan siksaan dalam rangka mempertahankan iman. Orang-orang kudus juga hadir di zaman serba canggih sekarang ini dalam diri orang-orang yang menunjukkan dan menghidupi kecintaan mereka kepada Yesus. Kata kuncinya bukan penderitaan dan siksaan, melainkan cinta dan kesetiaan kepada Yesus dan Gereja-Nya.

Orang kudus yang baru saja dibeatifikasi adalah Carlo Acutis, yakni pada Oktober lalu. Dia seorang remaja, programer komputer yang menyukai sepak bola. Dia hidup seperti remaja pada umumnya, tetapi sangat mencintai Ekaristi, rajin menyediakan waktu hening sebelum dan sesudah Ekaristi, mengaku dosa setiap minggu, suka berdoa Rosario, rajin pula mengajak orang tuanya mengunjungi situs-situs suci dan tempat terjadinya mukjizat-mukjizat Ekaristi. Cara hidup anak muda ini membawa perubahan kepada orang tuanya dan segenap anggota keluarga yang sebelumnya tidak terlalu memedulikan kehidupan rohani.

Ketika divonis mendapat penyakit kanker darah, Carlo mengatakan bahwa ia mempersembahkan hidup dan penderitaan ini kepada Yesus, Paus, Gereja, dan orang-orang sakit. Dia dikenal sebagai orang yang suka membela mereka yang dicemooh, terutama kaum disabilitas. Dia juga mempromosikan mukjizat Ekaristi, terutama melalui situs web yang dibangunnya. Menurutnya, “Semakin kita sering menerima Ekaristi, kita akan semakin menjadi seperti Yesus, sehingga di bumi ini kita akan merasakan surga.”

Bacaan pertama hari ini (Why. 20:1-4, 11 – 21:2) menunjukkan bahwa di kehidupan kekal, jiwa-jiwa yang selama hidupnya tetap setia, meski menderita karena bersaksi tentang Yesus dan sabda Allah, akan hidup kembali dan memerintah bersama Yesus. Mereka diganjar dengan kemuliaan yang kekal bersama-Nya, sebab setiap orang akan dihakimi menurut perbuatan masing-masing. Kemuliaan inilah yang kita rindukan dan yang akan kita peroleh bila kita setia kepada Yesus.

Yesus dalam bacaan Injil hari ini mengatakan, “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” Setia kepada Yesus berarti setia kepada sabda-Nya yang kekal. Dunia selalu berubah, dan apa pun yang ada di dunia ini akhirnya akan hancur dan lenyap. Yang kekal hanyalah Tuhan dan sabda-Nya. Karena itu, jika kita mencintai kesetiaan dan ingin tetap setia, kita harus menunjukkan kesetiaan kita kepada Dia yang selalu setia. Kesetiaan ini kita tunjukkan dengan mendengarkan dan melaksanakan sabda-Nya. Apa pun yang kita miliki di dunia ini hanyalah sarana agar kita dapat lebih setia melaksanakan sabda-Nya.

Seperti Carlo Acutis yang menggunakan kemampuannya untuk membaktikan diri pada Yesus, kita juga harus menggunakan apa yang kita miliki sebagai sarana untuk mewujudkan cinta dan kesetiaan kita pada Yesus. Jangan pernah menggantungkan diri pada hal-hal yang sifatnya duniawi, meski untuk itu kita harus mengalami penderitaan. Mari kita berdoa semoga kita mampu setia kepada Yesus sampai akhir hidup kita.