Dua Pembaptis

Sabtu, 9 Januari 2021 – Hari Biasa Sesudah Penampakan Tuhan

47

Yohanes 3:22-30

Sesudah itu Yesus pergi dengan murid-murid-Nya ke tanah Yudea dan Ia diam di sana bersama-sama mereka dan membaptis. Akan tetapi Yohanes pun membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air, dan orang-orang datang ke situ untuk dibaptis, sebab pada waktu itu Yohanes belum dimasukkan ke dalam penjara.

Maka timbullah perselisihan di antara murid-murid Yohanes dengan seorang Yahudi tentang penyucian. Lalu mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya: “Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya.” Jawab Yohanes: “Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari surga. Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya. Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”

***

Sebuah perselisihan dengan seorang Yahudi membuat murid-murid Yohanes melapor kepada guru mereka bahwa Yesus juga melakukan pembaptisan. Yesus, orang yang dulu dibaptis oleh Yohanes di Sungai Yordan dan yang tentang-Nya Yohanes memberi kesaksian, kini melakukan pembaptisan juga. Rupanya di kalangan murid-murid Yohanes muncul kekhawatiran bahwa peranan dan pengaruh guru mereka akan “direbut” oleh Yesus, apalagi dikatakan bahwa “semua orang pergi kepada-Nya”.

Dua pembaptis berkarya pada waktu yang sama, hanya tempatnya saja yang berbeda. Kisah ini tidak menceritakan apakah pembaptisan yang dilakukan Yohanes dan Yesus memiliki perbedaan. Yang jelas, keberadaan dua orang yang sama-sama membaptis ini menimbulkan pertanyaan: Apakah terjadi persaingan di antara mereka? Apakah muncul perasaan tidak nyaman karena pembaptis kedua dibaptis oleh pembaptis pertama?

Murid-murid Yohanes mungkin merasa begitu, tetapi Yohanes sendiri tidak. Pertanyaan dari para muridnya dijadikan kesempatan oleh Yohanes untuk memberikan kesaksian terakhir tentang Yesus. Kesaksian ini begitu indah dan pantas untuk kita resapi dalam-dalam. Alih-alih merasa disaingi oleh Yesus, Yohanes justru menegaskan kembali tugas pengutusannya.

Pertama, Yohanes menegaskan kembali bahwa dirinya bukan Mesias, melainkan orang yang diutus untuk mendahului Mesias. Kedua, mempelai perempuan, yakni umat Israel, tentu saja adalah milik mempelai laki-laki, yakni Mesias. Maka dari itu, karena Yesus adalah sang Mesias, sudah layak dan sepantasnya kalau orang-orang datang kepada-Nya. Jika demikian, siapakah Yohanes? Yohanes menempatkan dirinya sebagai sahabat mempelai laki-laki. Sebagai sahabat, ia berdiri di dekat mempelai laki-laki dan sangat bersukacita mendengar suaranya. Yohanes dengan ini menunjukkan keterbukaan hatinya bagi perkataan-perkataan Yesus.

Ungkapan penting dalam kesaksian Yohanes ini adalah “dikaruniakan kepadanya dari surga”. Meskipun bukan Mesias, yang mengutus Yohanes adalah Allah. Otoritas kesaksian Yohanes tidak diragukan. Kesaksiannya tentang Mesias merupakan rencana dan kehendak Allah. Sebagai seorang saksi, Yohanes sadar akan posisinya ini dan tidak meminta lebih. Dengan rendah hati, ia menempatkan diri di bawah Yesus. Karena Yesus telah tampil di hadapan umat Israel, Yohanes mempersiapkan diri untuk pergi. Berkatalah Yohanes, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”

Kita, saksi-saksi Kristus masa kini, harus meneladan sikap Yohanes tersebut. Alih-alih mewartakan Injil, sering kali kita tergoda untuk mewartakan diri sendiri. Lupa bahwa kita ini sekadar seorang saksi, pandangan umat malah kita tarik sedemikian rupa agar terarah kepada diri kita. Kita ingin lebih besar dari Kristus, atau setidaknya memanfaatkan kebesaran Kristus untuk kebesaran kita sendiri. Mari menata kembali karya pelayanan dan pewartaan yang kita lakukan, yakni untuk semata-mata menuntun orang lain agar mengenal Kristus lebih dalam, agar merasakan kehadiran-Nya, dan agar hidup di jalan yang telah ditunjukkan-Nya.