Menghadirkan Shalom bagi Semua Orang

Selasa, 26 Januari 2021 – Peringatan Wajib Santo Timotius dan Titus

74

Lukas 10:1-9

Kemudian dari itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.”

***

Injil Lukas adalah “Injil Pewartaan”. Dalam Injil yang ditulisnya, Lukas amat menekankan sabda dan pewartaan Tuhan. Injil hari ini dengan bagus memperlihatkan pola misi dan pewartaan para murid.

Pertama, tujuh puluh murid diutus berdua-dua. Mereka adalah kelompok murid lain di luar kedua belas pengikut terdekat Yesus. Angka tujuh puluh bisa saja nyata, tetapi bisa juga simbol yang menunjuk pada banyaknya misionaris dalam jemaat perdana, zaman Lukas. Mengacu pada Kej. 10, angka tujuh puluh sesuai dengan jumlah suku bangsa di dunia. Jadi, misi dan pewartaan para murid ditujukan kepada segenap bangsa, di setiap rumah maupun kota. Misi itu dijalankan secara bersama, bukan merupakan petualangan, hobi, atau eksperimen perseorangan, sehingga tidak boleh diklaim sebagai prestasi pribadi. Diutus berdua-dua juga menegaskan segi kerja sama dan saling mendukung antarpewarta. Dengan itu dihindari juga persaingan tidak sehat di antara mereka. Selain itu, diutus berdua-dua juga demi keabsahan misi dan pewartaaan. Ini sesuai dengan ketentuan Taurat bahwa keterangan dua saksi akan membuat kesaksian itu tidak diragukan (Ul. 19:15).

Kedua, inti misi dan pewartaan para murid adalah menghadirkan shalom atau damai sejahtera yang berasal dari Tuhan sendiri. Damai sejahtera itu bukanlah kata-kata belaka, melainkan tindakan nyata. Mereka mewartakan dan menyembuhkan pelbagai penyakit. Itulah Kerajaan Allah yang sudah dihadirkan sang Guru, dan sekarang diteruskan serta disebarluaskan oleh para murid-Nya ke pelbagai lapisan dan konteks kehidupan (rumah dan kota). Misi masa kini janganlah berhenti pada kata, tetapi terutama harus berfokus pada perubahan dan pembaruan yang nyata dalam hal pola pikir dan tingkah laku.

Ketiga, misi dan pewartaan para murid bukanlah menabur benih, melainkan menuai panenan. Mereka adalah “pekerja-pekerja” yang diutus untuk ikut memanen tuaian Tuhan yang berlimpah ruah. Musim menuai selalu berarti meningkatnya beban kerja, sehingga menuntut tambahan pekerja. Dengan kata lain, pekerjaan di ladang Tuhan tidak pernah cukup, selalu ada kebutuhan akan para pekerja. Saya dan Anda dipanggil untuk menjadi para pekerja di ladang Tuhan, bukan penggagas di belakang meja atau pengkhotbah di mimbar saja.

Keempat, urgensi dan beban pekerjaan di ladang Tuhan menuntut tanggapan yang sigap. Para utusan Tuhan harus bergerak cepat, jangan membuang waktu dengan basa-basi dan obrolan. Mereka mewartakan dan menghadirkan shalom Tuhan, bukan salam biasa. Karena itu, mereka juga tidak perlu terlalu repot apalagi cemas dengan anggaran dan sarana pewartaan. Pewarta Injil harus puas dengan sarana yang ada dan keramahan orang-orang yang terbuka menerima mereka, tidak perlu mencari kenyamanan ekstra.

Kelima, pengutusan kristiani tidak akan luput dari bahaya dan ancaman. Saya dan Anda bagaikan domba-domba yang diutus ke tengah kawanan serigala. Meskipun demikian, bahaya dan ancaman itu tidak boleh menghentikan pewartaan. Injil harus terus diberitakan dan dihadirkan di mana saja. Penolakan dan ancaman akan berdampak buruk bukan bagi Injil, bukan pula bagi para pewarta, melainkan bagi mereka yang menolak. Mereka tidak akan menjadi warga Kerajaan Allah, sehingga tidak akan juga menerima dan mengenyam damai sejahtera sejati. Bagi mereka, kedatangan Tuhan kelak akan berarti saat pengadilan dan hukuman.