Dipanggil untuk Memulihkan Martabat Luhur Manusia

Jumat, 2 April 2021 – Hari Jumat Agung

41

Ibrani 4:14-16; 5:7-9

Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.

Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya.

***

“Sudah selesai.” Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan Yesus sebelum wafat di kayu salib (Yoh. 19:30). Apakah ini ungkapan kelegaan Yesus karena penderitaan-Nya sudah lewat dan pekerjaan-pekerjaan-Nya di dunia sudah berakhir?

Mari kita bersama mengingat apa yang dikatakan penginjil Yohanes ketika mengisahkan perjamuan terakhir antara Yesus dan para murid-Nya: “Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya” (Yoh. 13:1). Yesus mengasihi manusia sampai tuntas. Karena itu, ketika Yesus di atas salib berkata, “Sudah selesai,” kita bisa membayangkan bahwa Yesus sedang menyapa Bapa-Nya dan berkata, “Ini Aku. Aku telah melakukan segala sesuatu sampai pada kepenuhannya. Semua sudah terlaksana dengan baik.” Itulah kiranya yang dimaksudkan oleh Yesus.

Ungkapan “sudah selesai” mengajarkan kepada kita banyak hal, terlebih tentang cinta dan Tuhan. Yoh. 13:1 dan Yoh. 19:30 memiliki keterkaitan yang amat dalam. Kematian Yesus menunjukkan bagaimana Tuhan dengan penuh keseriusan mendampingi kita semua yang masih ada di dalam dunia, masih berjuang di tengah-tengah kegelapan. Dengan kematian Yesus, kita mendapat jaminan akan kesetiaan Tuhan yang beserta kita. Tuhan tidak akan mengabaikan manusia. Dengan kematian-Nya, Yesus justru membawa kita pada Bapa, sang Sumber Terang.

Pada kesempatan hari yang agung ini, saya juga ingin mengajak kita semua untuk merenungkan peristiwa yang terjadi saat penyaliban Yesus, yakni pengundian pakaian-Nya (Yoh. 19:23-24). Di sini kita menyadari betapa Yesus benar-benar mengalami penderitaan yang hebat. Ia tidak lagi dianggap bermartabat. Pada masa itu, pakaian dianggap menunjukkan martabat seseorang, membuat yang bersangkutan menjadi “kelihatan” di mata orang lain. Namun, pakaian ditanggalkan dari Yesus. Ia dibuat tidak kelihatan, tidak berharga sebagai manusia. Yang tinggal pada diri Yesus adalah penderitaan yang tidak masuk akal. Yesus yang mulia dihancurkan martabat-Nya secara total.

Kalau kita ingat, pembasuhan kaki dalam perjamuan terakhir hendak menegaskan betapa manusia dihargai dan dicintai. Tidak ada orang yang pantas dibuang atau dijadikan sampah. Hal sebaliknya terjadi pada sengsara dan wafat Yesus. Yesus diperlakukan bukan sebagai manusia lagi. Mungkin ini mencerminkan kehidupan kita sekarang. Kita memperlakukan sesama seperti orang-orang memperlakukan Yesus. Kita tidak memberi penghormatan dan penghargaan pada martabat manusia yang luhur. Orang lain kita anggap sebagai alat yang bisa digunakan dan kemudian dibuang ketika sudah usang.

Sengsara dan wafat Yesus membangun kembali hubungan antara manusia dan Allah. Kita melihat bagaimana merosotnya kemanusiaan yang menolak kehadiran Yang Ilahi. Dunia dibutakan oleh kesesatan yang melecehkan martabat manusia yang luhur. Kita diajak untuk tidak berhenti pada rasa terharu melihat Yesus yang menderita. Rasa terharu tidak cukup. Kita diajak untuk menyadari bagaimana kekuatan jahat telah menghancurkan martabat manusia. Hendaknya kita mengikuti Yesus yang berjuang untuk memulihkan martabat yang luhur tersebut.