Kantong Baru untuk Anggur Baru

Senin, 15 Januari 2018 – Hari Biasa Pekan II

374

Markus 2:18-22

Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus: “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya. Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”

***

Baru mulai berkarya, Yesus langsung memasuki pusaran konflik melawan kelompok-kelompok yang sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Yahudi. Lima kisah dalam Mrk. 2:1 – 3:6 mencatat hal itu. Dalam Mrk. 2:1-12 dan Mrk. 2:13-17, kedua pihak berselisih pendapat tentang dosa. Dalam Mrk. 2:23-28 dan Mrk. 3:3:1-6, mereka berdebat tentang hukum Sabat. Keempat perdebatan itu mengapit bacaan Injil hari ini, yakni perdebatan tentang puasa.

Kepada Yesus, sekelompok orang (entah siapa mereka itu) mempertanyakan mengapa murid-murid-Nya tidak berpuasa, sementara murid Yohanes dan murid orang Farisi rajin berpuasa pada saat-saat tertentu. Meski yang dikritik para murid, serangan tentu saja terarah kepada Yesus sendiri sebagai Guru mereka. Karena itu, Ia kemudian memberikan tanggapan dengan balik mengajukan pertanyaan retoris kepada mereka.

Setidaknya ada tiga hal yang perlu dicatat dalam perdebatan ini. Pertama, puasa yang diwajibkan Taurat hanyalah puasa pada Hari Raya Pendamaian (Im. 16:29). Puasa-puasa lain lahir dari kesalehan pribadi atau kesepakatan internal kelompok keagamaan tertentu. Kalau demikian, mengapa hal itu mau dipaksakan kepada murid-murid Yesus?

Kedua, para murid saat itu tengah bersukacita, sebab sang mempelai laki-laki, yakni Yesus sendiri, ada bersama mereka. Mana mungkin mereka berpuasa dalam suasana seperti itu? Puasa adalah lambang duka dan kesedihan! Pada saatnya, para murid akan berpuasa juga, yakni ketika sang mempelai diambil paksa dari mereka, dibunuh di kayu salib. Demikian hendaknya puasa memiliki makna, bukan sekadar mengikuti jadwal, bukan pula sekadar ritual yang sifatnya lahiriah.

Ketiga, dengan kiasan tentang baju dan kantong kulit, Yesus mengajak kita untuk menerima Dia dengan merombak diri kita sepenuhnya. Anggur baru hanya bisa ditampung di kantong yang baru. Kantong yang lama, yakni ketaatan buta pada hukum-hukum agama tanpa pemahaman akan maknanya yang terdalam, sebaiknya dibuang saja. Itu hanya akan menciptakan orang-orang yang “beragama, tapi tanpa jiwa.”