Jangan Ini, Jangan Itu

Selasa, 16 Januari 2018 – Hari Biasa Pekan II

225

Markus 2:23-28

Pada suatu kali, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Maka kata orang-orang Farisi kepada-Nya: “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Jawab-Nya kepada mereka: “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu — yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam — dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.”

***

Suatu ketika saya mengikuti retret panjang di suatu tempat. Rumah retretnya sebenarnya bagus. Lingkungannya asri, suasananya hening. Di tempat ini kita pasti bisa berdoa dan merenung dengan khusyuk. Hanya satu kekurangannya: dindingnya berhiaskan kertas-kertas yang bisa membuat orang frustrasi. Mengapa begitu? Tidak lain karena isinya peringatan yang hampir semuanya diawali dengan kata “jangan” atau “dilarang.” Contohnya: “Dilarang Merokok,” atau “Dilarang Berisik,” ada juga “Jangan Menyalakan Lilin.” Larangan-larangan itu demikian banyak, menandingi perintah Allah yang jumlahnya cuma sepuluh!

Kali ini Yesus berhadapan dengan orang Farisi dan memperdebatkan topik yang sangat sensitif, yakni tentang hukum Sabat. Dikisahkan sejumlah orang melihat murid-murid Yesus memetik bulir gandum di ladang. Ini bukan pencurian, sebab tindakan para murid dibenarkan Taurat (Ul. 23:25). Yang dipermasalahkan, saat itu hari Sabat. Para murid dipandang telah bekerja, suatu hal yang dilarang untuk dilakukan pada hari Sabat. Menanggapi kecaman itu, Yesus mengambil contoh dari pengalaman Daud (1Sam. 21:1-6). Demi keselamatan pasukannya yang kelaparan, Daud berani melanggar ketentuan agama dan ia malah dibenarkan.

Hari Sabat ada untuk manusia dan bukan sebaliknya. Dengan ini Yesus menegaskan bahwa tujuan semua hukum adalah demi kebaikan dan keselamatan manusia. Penyusunan dan penafsiran suatu aturan mesti memperhatikan hal itu. Orang tidak otomatis menjadi baik meskipun dirinya sudah “dipagari” banyak aturan. Selain itu, ada saja orang yang menafsirkan hukum agama seenaknya sendiri, lalu menyebutnya sebagai “kehendak Allah.” Alih-alih membela Allah, mereka ini dengan demikian telah mencoreng nama-Nya yang kudus, membuat Dia seakan-akan kejam dan tidak berbelas kasih.