Benih-benih Firman

Rabu, 24 Januari 2018 – Peringatan Wajib Santo Fransiskus dari Sales

566

Markus 4:1-20

Pada suatu kali Yesus mulai pula mengajar di tepi danau. Maka datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak itu di darat, di tepi danau itu. Dan Ia mengajarkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Dalam ajaran-Nya itu Ia berkata kepada mereka: “Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat.” Dan kata-Nya: “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

Ketika Ia sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu menanyakan Dia tentang perumpamaan itu. Jawab-Nya: “Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun.” Lalu Ia berkata kepada mereka: “Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain? Penabur itu menaburkan firman. Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka. Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad. Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat.”

***

Dalam perumpamaan tentang penabur, kita diajak melihat bagaimana nasib tumbuh kembangnya benih firman yang ditaburkan, yang ternyata tergantung pada kondisi tanah batin yang menerimanya. Perumpamaan ini tetap relevan untuk pendengar zaman modern. Keempat kondisi tanah sama-sama menerima firman, namun keempatnya memiliki perbedaan sikap dalam menerimanya.

Benih yang jatuh di pinggir jalan tidak sampai tertanam karena segera diambil dan dimakan burung-burung. Ini mengumpamakan orang yang kendati mendengarkan firman mengabaikannya dan tidak mempercayainya. Ia lebih meyakini ajaran si Iblis dan sejenisnya. Secara KTP orang ini memang Katolik, namun nilai-nilai yang dianut dan dihidupi justru bertentangan dengan imannya itu. Ia justru lebih banyak mendengarkan dan mempercayai ajaran-ajaran lain yang bertentangan dengan Injil.

Benih yang jatuh di tanah berbatu memang cepat tumbuh, namun juga cepat layu oleh terik matahari karena tidak berakar. Ini gambaran orang yang segera menerima firman, namun segera pula meninggalkannya. Ia menjadi murtad manakala mengalami penganiayaan dan penindasan. Firman ia sambut sejauh membawa keuntungan. Dalam konteks di Indonesia, barangkali kita tidak mengalami penindasan, kecuali sulitnya mengurus IMB Gereja. Namun, hambatan dalam promosi jabatan atau kesulitan dalam menemukan jodoh yang seiman bisa jadi menjadi tantangan tersendiri, di mana orang ditantang untuk tetap bertekun dalam firman atau murtad demi karier dan mendapatkan pasangan hidup.

Benih yang tumbuh di tengah semak duri dan akhirnya mati terhimpit diartikan oleh Markus sebagai orang yang menerima firman, namun tidak berbuah karena terhimpit oleh pelbagai kekhawatiran, tipu daya kekayaan, dan keinginan akan hal-hal lain. Ini menggambarkan orang Katolik yang tidak percaya sungguh pada penyertaan Tuhan. Ia selalu cemas akan hidup dan masa depannya. Yang lain, orang ini mengira bahwa dengan kekayaan ia bisa membeli segalanya. Karena itu, ia terus mengejarnya sampai lupa beristirahat, lupa bersosialisasi dengan sesama, dan bahkan melupakan Tuhan. Sementara itu, keinginan akan hal-hal lain dalam konteks kita barangkali berupa mentalitas konsumerisme yang membuat kita tidak bisa berkata cukup dan tidak mau berbagi dengan yang lain. Itu semua membuat benih firman tidak menghasilkan buah sama sekali alias mandul.

Benih yang jatuh di tanah yang baik melukiskan orang yang mendengarkan firman dan menyambutnya, sehingga ia pun menghasilkan buah berlipat ganda.

Demikianlah perumpamaan ini mengundang kita untuk mengolah “tanah batin” kita dalam menyambut firman. Menyambut firman tidak hanya terjadi sekali pada saat kita mulai percaya dan menerima pembaptisan, tetapi berlangsung terus-menerus tatkala kita mendengarkan firman, entah melalui pembacaan firman dalam liturgi, devosi, ataupun pembacaan Alkitab secara pribadi.

Hari ini kita memperingati Santo Fransiskus dari Sales, seorang imam dan uskup di Jenewa, yang hidup pada abad XVI. Dia tekun mewartakan firman dan membimbing orang-orang di Swiss untuk kembali pada iman Katolik. Firman yang tertabur dalam hatinya menemukan tanah yang baik, sehingga menghasilkan buah berlipat ganda. Banyak orang menjadi percaya karenanya. Fransiskus juga banyak menulis buku rohani, sehingga diangkat menjadi pelindung pers Katolik. Melalui aneka tulisannya, dia mewartakan firman.

Bagaimana dengan kita? Apakah benih firman telah menemukan “tanah batin” yang baik dalam hati kita masing-masing? Apa yang perlu kita lakukan agar firman yang ditaburkan dalam hati kita berbuah berlipat ganda?