Di Tengah Badai

Sabtu, 27 Januari 2018 – Hari Biasa Pekan III

791

Markus 4:35-41

Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: “Marilah kita bertolak ke seberang.” Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?”

***

Injil Markus menampilkan adegan Yesus meredakan angin ribut sebagai mukjizat pertama yang menunjukkan bahwa diri-Nya berkuasa atas alam. Di tempat lain, Yesus kembali meredakan badai di lautan (Mrk. 6:51), menggandakan roti (Mrk. 6:41; 8:6), dan mengutuk pohon ara (Mrk. 11:20). Itulah beberapa mukjizat atas alam yang dikerjakan Yesus. Kita akan mencoba menyimak dan merenungkan detail kisah mukjizat Yesus meredakan angin ribut.

Yesus dan para murid menyeberang danau atas inisiatif Yesus sendiri. Kendati para murid mengikuti ajakan sang Guru dan sang Guru bersama mereka, ternyata angin badai tetap menerpa mereka dan air laut menerobos ke dalam perahu. Dikisahkan bahwa ada perahu-perahu lain yang juga mengikuti, namun cerita terfokus pada perahu yang ditumpangi Yesus. Perahu-perahu lain tentunya juga diterpa badai badai dan terancam bahaya seperti perahu Yesus.

Ketika para murid panik, sang Guru justru tidur di buritan. Tidur Yesus ini tidak hanya menunjukkan kebutuhan alami akan istirahat, tetapi juga menggambarkan ketenangan iman-Nya. Dia percaya pada perlindungan Allah Bapa (bdk. Mzm. 3:5, 4:8; Ayb. 11:18-19). Ketenangan dan sikap pasrah Yesus kontras dengan sikap para murid yang menjadi panik tatkala air menyembur masuk. Mereka membangunkan Yesus, “Guru, tidak pedulikah bila kita binasa?” Yesus pun bangun dan menghardik danau itu, “Diam, tenanglah.” Angin dan danau pun taat kepada-Nya. Lalu Yesus mengecam ketidakpercayaan para murid. Mereka hanya bisa bertanya-tanya tentang sosok sang Guru yang sedemikian berkuasa, sampai angin dan danau pun taat kepada-Nya.

Apa yang dialami para murid dialami juga oleh bahtera Gereja sampai hari ini. Kendati mengikuti perintah Yesus dan selalu menghadirkan sang Guru di tengah-tengahnya, ada kalanya Gereja juga mengalami badai topan yang menerobos masuk dan siap menenggelamkan bahtera. Dalam kondisi seperti ini, Tuhan seakan tidur saja dan tidak berbuat sesuatu untuk menolong. Kita pun lalu memprotes mengapa Tuhan diam, seolah-olah tidak peduli.

Menghadapi situasi bangsa kita yang memprihatinkan akhir-akhir ini, kita bersikap sama. Sebagai minoritas, kita merasa khawatir karena Tuhan seakan-akan tidur dan tidak peduli terhadap nasib kita. Namun, “Gusti ora sare” (Tuhan tidak tidur), begitu kata Ahok penuh keyakinan tatkala menghadapi gempuran dahsyat dari aneka penjuru.

Tuhan punya cara tersendiri untuk menyelamatkan kita. Ia tetap berkuasa mengatasi badai lautan maupun prahara kehidupan. Dialah penguasa atas alam dan waktu. Karena itu, jangan ragu bahwa Allah sanggup menyelesaikan setiap persoalan dan kesulitan kita. Dia sungguh Allah yang peduli. Dia berkuasa memberikan ketenangan, solusi, dan jalan terbaik atas setiap pergumulan dan kesulitan kita. Karena itu, kepada kita yang ragu, Tuhan memberikan tantangan, “Mengapa kamu takut, mengapa kamu tidak percaya?”