Berbuat Baik dengan Tulus

Rabu, 14 Februari 2018 – Hari Rabu Abu

144

Matius 6:1-6, 16-18

“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

“Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

“Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

***

Ada abu berbentuk salib kecil di dahi kita hari ini. Retret Agung Masa Prapaskah telah dimulai. Selama empat puluh hari, kita diajak untuk masuk ke dalam keheningan, guna menyadari segala tindakan dan perbuatan yang telah mencederai panggilan kita sebagai anak-anak Allah. Injil hari ini menampilkan tiga contoh kesalehan yang baik sekali dilaksanakan sepanjang masa puasa, yakni memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa.

Tiga hal itu sebenarnya merupakan tindakan yang baik. Memberi sedekah adalah bukti kasih kita terhadap sesama, terutama yang berkekurangan; berdoa menandakan iman kita kepada Bapa, sosok yang selalu kita rindukan dan kita percaya; sementara berpuasa akan membantu kita terbebas dari ikatan nafsu duniawi.

Sayang, banyak orang merusaknya dengan menjadikannya sarana untuk pamer. Memberi sedekah, berdoa, maupun berpuasa dilakukan tidak dengan maksud dan tujuan tersebut di atas, melainkan agar dilihat, dipuji, dan dikagumi orang lain.

Lakukanlah kebaikan dengan tulus, bukan demi pujian. Pujian dari manusia sering kali hanya basa-basi belaka. Sehebat apa pun kita, harus diingat bahwa kita ini makhluk lemah yang berasal dari abu dan akan kembali menjadi abu. Kesuksesan, keberhasilan, dan pencapaian yang kita raih terjadi semata berkat kebaikan Tuhan. Bersyukurlah kepada-Nya, persembahkanlah semua kembali kepada-Nya juga.