Menyangkal Diri

Kamis, 15 Februari 2018 – Hari Kamis Sesudah Rabu Abu

210

Lukas 9:22-25

Dan Yesus berkata: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?”

***

Ada alasan khusus mengapa abu yang dioleskan di dahi kita berbentuk salib. Tanda itu menjadi pengingat bahwa kita ini murid Yesus. Dia telah rela menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib demi hidup kita. Pada saat itu, yang terjadi pada Yesus sebenarnya membuat kecewa banyak orang, sebab mereka mengira bahwa Ia akan sukses memimpin peperangan melawan penjajah Romawi, lalu naik takhta menjadi raja agung Israel.

Jalan hidup sang Mesias ternyata tidak demikian. Yesus sendiri memberitahukan bahwa Ia akan menderita, ditolak, dan dibunuh. Meski mengerikan, Yesus hendak menjalaninya dengan taat, sebab itulah kehendak Bapa.

Bapa tidak pernah merancang sesuatu yang buruk. Lihat saja, akhir dari semua penderitaan itu ternyata kebangkitan dan kemuliaan kekal. Karena itu, Yesus meminta para murid untuk mengikuti teladan-Nya, antara lain dengan penyangkalan diri.

Kita disebut menyangkal diri kalau hidup kita tidak berpusat pada diri sendiri. Segala nafsu, ambisi, dan keinginan mesti dikesampingkan. Pedoman hidup kita adalah kehendak Bapa. Kehendak-Nya selalu terarah pada keselamatan, meski untuk itu kita lebih dulu harus melalui jalan yang terjal. Jangan kecil hati. Penderitaan ataupun kesusahan yang kita alami adalah kesempatan bagi kita menemani Yesus yang memanggul salib-Nya ke puncak Golgota. Boleh menemani Yesus adalah suatu privilese, dan karenanya kita justru mesti bersyukur.