Doa Tuhan

Selasa, 20 Februari 2018 – Hari Biasa Pekan I Prapaskah

186

Matius 6:7-15

“Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di surga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.]

Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”

***

Kita hidup di zaman SMS (Short Message Service), sehingga sudah terbiasa berkomunikasi dengan teks-teks singkatan seperti btw, otw, lol, dan lain-lain. Salah satu singkatan yang tidak asing lagi adalah ASAP, yang berarti As Soon As Possible. Singkatan ini digunakan untuk mengungkapkan situasi tergesa-gesa, panik, atau bahkan stres karena diburu-buru.

Saya pernah chatting dengan seorang teman tentang aneka persoalan yang terjadi akhir-akhir ini yang penuh dengan bencana, perang, teror, dan sebagainya. Di akhir pembicaraan dia menulis ASAP. Nah, saya menjadi bingung kenapa ASAP, sebab tidak ada yang mendesak, tidak ada pula rencana bertemu. Ketika tanyakan itu, dia menjawab sebagai berikut:

Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, padahal sudah waktunya untuk sebuah pertemuan yang sudah disepakati. Tidak ada waktu lagi, kamu harus buru-buru dan segera bergegas. ASAP! Always Say A Prayer.

Di tengah-tengah kekacauan keluarga akibat aneka persoalan yang dihadapi, ketika waktu yang berkualitas cukup langka, lakukanlah yang terbaik yang bisa kamu lakukan dan biarkan Tuhan melakukan sisanya. ASAP! Always Say A Prayer.

Kamu mungkin memiliki kekhawatiran yang lebih daripada yang dapat kamu tanggung. Tenangkan diri dan ambil napas dalam-dalam. ASAP! Always Say A Prayer.

Tuhan tahu bagaimana hidup yang penuh tekanan. Dia ingin meringankan dan peduli denganmu, dan Dia akan menanggapi semua kebutuhanmu. ASAP! Always Say A Prayer.

Dalam Injil hari ini, Yesus menunjukkan kepada kita dua kesalahan saat kita berdoa. Pertama, pengulangan yang sia-sia (bertele-tele, banyak kata), entah berdoa sendiri atau dengan orang lain. Kedua, mencari kemuliaan yang sia-sia (berdoa supaya dilihat orang). Orang Farisi berdoa panjang lebar dengan mengucapkan kata-kata yang sama secara berulang-ulang tanpa tujuan. Yang menjadi perhatian mereka adalah bagaimana membuat doa yang panjang. Karena itu, Yesus mengajarkan kepada kita bahwa doa seharusnya bukanlah menumpuk kata, ungkapan, dan rumusan agar bisa didengar oleh Tuhan yang kemudian diharapkan mau mengabulkan permohonan kita.

Dalam konteks inilah terkadang kita dituduh melakukan hal yang sama seperti orang Farisi. Dikatakan bahwa kita mengulang-ulang doa Bapa Kami dan Salam Maria entah sampai berapa kali tanpa memperhatikan maknanya (misalnya dalam doa rosario). Ditambahkan pula bahwa doa menjadi mandul dan kering kalau dilakukan secara berulang-ulang, dan bahwa pengulangan itu sia-sia serta tidak menyenangkan Tuhan. Benarkah demikian?

Ternyata tidak semua doa panjang dilarang. Yesus sendiri, misalnya, pernah berdoa semalaman (Luk. 6:12). Doa Salomo juga panjang (1Raj. 8:22-53). Ada kalanya kita memang membutuhkan doa yang panjang pada saat-saat tertentu. Yang dikecam adalah memperpanjang doa seolah-olah itu akan lebih menyenangkan Tuhan atau lebih berkenan di hadapan-Nya. Doa menjadi seperti usaha menyuap Tuhan.

Jadi, yang dikritik bukan banyak berdoa, sebab kita memang diajarkan untuk selalu berdoa. Yang keliru adalah rangkaian kata yang kita ucapkan, yang kadang tanpa makna dan penuh dengan basa-basi. Biarlah kata-kata yang kita ucapkan sedikit, asalkan penuh perhatian dan dipertimbangkan dengan baik. Kita harus berdoa dalam sebuah komunikasi yang tulus dan serius kepada Allah, Bapa kita. Dalam konteks inilah doa Bapa Kami bisa lebih lebih bermakna ketika didoakan.

Yesus sudah mengajarkan kepada kita salah satu doa yang luar biasa. Pertama-tama, kita berdoa supaya nama Tuhan dikuduskan, supaya Kerajaan Allah datang ketika kita melakukan kehendak-Nya di dunia ini sebagaimana di surga. Barulah kemudian kita memohon apa yang kita butuhkan: makanan sehari-hari baik rohani dan jasmani, pengampunan, dan kekuatan untuk mengatasi godaan yang kita hadapi saat ini. Persyaratan sebagaimana disampaikan Yesus adalah bahwa pengampunan Allah dapat diterima hanya setelah kita menunjukkan pengampunan kepada sesama.

Jadi, marilah kita mendekati Tuhan dalam doa dengan kerendahan hati, dengan sederhana, dan dengan niat baik. Itu karena Tuhan lebih tahu tentang kebutuhan kita yang sesungguhnya daripada kita sendiri.