Kursi Santo Petrus

Kamis, 22 Februari 2018 – Pesta Takhta Santo Petrus

470

Matius 16:13-19

Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.”

***

Hari ini kita merayakan Pesta Takhta Santo Petrus. Takhta sama dengan singgasana, sama pula dengan kursi istimewa. Bagaimana bisa kita merayakan sebuah kursi, sebuah singgasana, sebuah takhta, sebuah perabot?

Penjelasan pertama, pada zaman kuno, orang Romawi biasa berkumpul pada hari ulang tahun kematian anggota keluarga mereka. Mereka berkumpul di makamnya untuk berdoa dan makan bersama. Untuk dia yang sudah meninggal disediakan sebuah kursi kosong. Mengikuti kebiasaan ini, orang Kristen mula-mula berkumpul bersama secara diam-diam di makam Santo Petrus, sebab mereka takut ditangkap pemerintah Romawi. Mereka meletakkan kursi kayu sederhana di depan makam, dan merayakan pemakaman atas uskup pertama mereka itu. Kursi kosong tersebut melambangkan kehadiran Santo Petrus di tengah mereka. Oleh karena itu, tanggal 22 Februari dijadikan hari ulang tahun kematian atau pemakaman Santo Petrus.

Penjelasan kedua, sebuah kursi khusus atau tempat kehormatan adalah cara yang sangat umum untuk menunjuk orang yang memiliki otoritas tertinggi dalam sebuah organisasi. Hal ini biasa kita dengar, misalnya menyangkut istilah kursi presiden, takhta raja, dan sebagainya. Demikianlah takhta Santo Petrus atau takhta Paus merupakan simbol kekuasaan dan otoritas pemerintahan seluruh Gereja. Karena itu, pesta yang kita rayakan hari ini tidak berfokus pada perabot, tetapi pada peran unik Santo Petrus di Gereja, peran yang diteruskan oleh penerusnya, yaitu para paus. Sepanjang sejarah, kepada setiap paus dipercayakan otoritas yang diberikan kepada Petrus. Setiap Paus secara simbolis duduk di kursi Santo Petrus.

Injil hari ini menyajikan kepada kita komitmen Santo Petrus. Dia berkata kepada Yesus, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Apa yang terjadi kemudian menjadi petunjuk bahwa komitmen Petrus tadi sayangnya dangkal belaka. Ia yang sudah mengakui Yesus sebagai Mesias, ternyata tidak mengerti mengapa sang Mesias harus menderita. Itulah sebabnya kemudian Yesus menegur Petrus dengan keras. Oleh Yesus, Petrus dilihat sebagai penghalang bagi rencana Allah.

Yang mengagumkan dan mungkin tidak dinyana-nyana adalah adalah komitmen Petrus setelah Yesus bangkit dari kematian. Dia yang meragukan Yesus, dia yang tidak paham, dia yang lari dan menyangkal Yesus pada akhirnya malah mendapat tugas untuk melayani dan menggembalakan domba-domba-Nya. Kemudian memang terbukti bahwa Petrus dengan berani bersaksi untuk Kristus (Kis 3:11-26). Mengapa ini bisa terjadi? Karena Petrus menyesal dan bertobat, ia berani kembali kepada Tuhan.

Bila dibandingkan dengan Yudas Iskariot, mungkin bisa dikatakan bahwa awalnya Petrus adalah sebuah kegagalan. Yudas sukses secara finansial maupun politik: ia memegang kas para rasul dan sanggup memanipulasi kekuasaan politik untuk mencapai tujuannya. Petrus gagal karena mandul dalam krisis dan secara sosial tidak kompeten. Pada saat penangkapan Yesus, dia malah lari, tak ubahnya seorang pengecut yang malang dan ketakutan. Dia bukan teman yang kita inginkan ada bersama kita saat menghadapi bahaya.

Namun, situasi kemudian berbalik. Yudas yang dulu sukses secara duniawi, sekarang menjadi buah bibir sebagai seorang pengkhianat. Petrus malah kemudian menjadi salah satu tokoh yang paling dihormati di Gereja dan di dunia. Saudara-saudari sekalian, marilah meneladani Petrus. Kehidupan kita saat ini mungkin mengecewakan. Mari kita balik keadaan itu agar hidup kita menjadi berkenan di hadapan-Nya.