Dalang Pengkhianatan 

Selasa, 27 Maret 2018 – Hari Selasa dalam Pekan Suci

382

Yohanes 13:21-33, 36-38

Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu, lalu bersaksi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Murid-murid itu memandang seorang kepada yang lain, mereka ragu-ragu siapa yang dimaksudkan-Nya. Seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya, bersandar dekat kepada-Nya, di sebelah kanan-Nya. Kepada murid itu Simon Petrus memberi isyarat dan berkata: “Tanyalah siapa yang dimaksudkan-Nya!” Murid yang duduk dekat Yesus itu berpaling dan berkata kepada-Nya: “Tuhan, siapakah itu?” Jawab Yesus: “Dialah itu, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya.” Sesudah berkata demikian Ia mengambil roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot. Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: “Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.” Tetapi tidak ada seorang pun dari antara mereka yang duduk makan itu mengerti, apa maksud Yesus mengatakan itu kepada Yudas. Karena Yudas memegang kas ada yang menyangka, bahwa Yesus menyuruh dia membeli apa-apa yang perlu untuk perayaan itu, atau memberi apa-apa kepada orang miskin. Yudas menerima roti itu lalu segera pergi. Pada waktu itu hari sudah malam.

Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus: “Sekarang Anak Manusia dipermuliakan dan Allah dipermuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera. Hai anak-anak-Ku, hanya seketika saja lagi Aku ada bersama kamu. Kamu akan mencari Aku, dan seperti yang telah Kukatakan kepada orang-orang Yahudi: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang, demikian pula Aku mengatakannya sekarang juga kepada kamu.

Simon Petrus berkata kepada Yesus: “Tuhan, ke manakah Engkau pergi?” Jawab Yesus: “Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku.” Kata Petrus kepada-Nya: “Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!” Jawab Yesus: “Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.”

***

Dalam dunia pewayangan, seorang dalang harus memiliki wawasan yang luas. Ia harus mempunyai banyak kemampuan sekaligus: sebagai sutradara, penyusun cerita, narator, pemain, penata pentas, dan lain sebagainya. Karena kehebatannya menyusun skenario dan memainkan banyak peran seperti itu, dalang tidak hanya dikenal dalam kesenian tradisional. Istilah modern pun memakai kata “dalang” untuk menunjuk aktor intelektual di balik peristiwa-peristiwa yang terskenario. Istilah lain yang digunakan adalah dia atau mereka yang bergerak di belakang layar dengan strategi cerdas dan tak terbaca oleh lawan.

Yudas Iskariot menjadi “dalang” penyaliban Yesus. Bersama ahli Taurat dan orang Farisi, ia menyusun skenario besar untuk menangkap dan menyalibkan Yesus. Namun, skenario mereka rupanya dengan mudah terbaca oleh Yesus.

Dalam acara makan Paskah bersama, Yesus menunjuk siapa dalang pengkhianatan di antara para murid terhadap diri-Nya. Bisa saja Yesus mencegah atau membatalkan skenario itu. Akan tetapi, pada titik yang sama, Yesus sadar bahwa Ia sedang melaksanakan misi Bapa-Nya.

Yudas Iskariot lemah tidak berkutik menghadapi pengaruh iblis. Ia mengkhianati sang Guru. Sementara itu, Petrus larut dalam rasa takut, lemah, dan kecut, sehingga akhirnya menyangkal Yesus. Para murid yang lain pun memiliki kadar pengkhianatan masing-masing terhadap Yesus. Mereka membiarkan diri masuk dalam skenario besar penyaliban Yesus. Iblis memiliki suatu target, yakni agar manusia terpecah belah.

Kita mungkin saja sedang menjadi “dalang” seperti Yudas yang merencanakan skenario melawan Yesus. Kita membiarkan diri dikuasai Iblis untuk memecah belah orang lain. Kita mudah berubah dari cinta menjadi benci, dari kesucian menjadi kebanggaan diri, dari keramahan menjadi kekejian, serta dari iman menjadi uang.

Mari kita kembali ke salib Kristus dan memohon perlindungan dari serangan setan. Hanya pada Yesus, kita menemukan pengosongan diri, pengorbanan, pengampunan, belas kasihan, dan cinta sejati.