Tiga Dasar Misi kepada Bangsa-bangsa Asing

Minggu, 6 Mei 2018 – Hari Minggu Paskah VI

546

Kisah Para Rasul 10:25-26, 34-35, 44-48

Ketika Petrus masuk, datanglah Kornelius menyambutnya, dan sambil tersungkur di depan kakinya, ia menyembah Petrus. Tetapi Petrus menegakkan dia, katanya: “Bangunlah, aku hanya manusia saja.”

Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.”

Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu. Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga, sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah. Lalu kata Petrus: “Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?” Lalu ia menyuruh mereka dibaptis dalam nama Yesus Kristus. Kemudian mereka meminta Petrus, supaya ia tinggal beberapa hari lagi bersama-sama dengan mereka.

***

Petrus tampaknya enggan memulai kegiatan misi kepada orang bukan Yahudi. Keengganan itu terlihat jelas ketika ia menolak untuk menaati suara surgawi (Kis. 10:14) dan menekankan larangan untuk bergaul dengan orang bukan Yahudi (Kis. 10:28).

Keengganan Petus pada satu sisi menunjukkan latar belakang keyahudiannya. Orang Yahudi berupaya menjauhkan diri mereka dari makanan yang haram dan dari persekutuan serta persahabatan dengan orang bukan Yahudi dalam aneka bentuk.

Pada sisi lain, keengganan itu menunjukkan bahwa perjalanan Petrus ke rumah Kornelius dan khotbahnya di sana bukan atas inisiatifnya sendiri, melainkan inisiatif Allah. Allah memprakarsai misi kepada orang bukan Yahudi, dan prakarsa itu diperlihatkan dalam bentuk penglihatan, suara surgawi, dan karunia Roh Kudus.

Atas dasar prakarsa dan bimbingan Allah, Petrus meletakkan tiga dasar pembenaran misi kepada orang bukan Yahudi. Pertama, dasar teologis yang diungkapkan dalam deklarasi tentang ketidakberpihakan Allah. “Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya” (Kis. 10:35).

Kedua, dasar kristologis yang terungkap dalam pengakuan terhadap Kristus yang bangkit sebagai Tuhan dari semua orang. “Yesus adalah Tuhan dari semua orang” (Kis. 10:36). Pengakuan ini menunjukkan bahwa orang bukan Yahudi dapat mengambil bagian dalam keselamatan atau kedamaian yang ditawarkan oleh Yesus Kristus.

Ketiga, dasar pneumatologis yang diperlihatkan dalam kehadiran Roh Kudus. “Roh Kudus turun atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan” (Kis. 10:44). Allah mengaruniakan Roh Kudus kepada orang bukan Yahudi seperti yang diberikan kepada orang Yahudi pada waktu Pentakosta.