Merindukan Kesembuhan

Sabtu, 30 Juni 2018 – Hari Biasa Pekan XII

129

Matius 8:5-17

Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya: “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.” Yesus berkata kepadanya: “Aku akan datang menyembuhkannya.” Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.

Setibanya di rumah Petrus, Yesus pun melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Maka dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Ia pun bangunlah dan melayani Dia. Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.”

***

Apa arti nama Yesus? Penginjil Matius menjelaskan makna nama Yesus sebagai Allah yang menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka (Mat. 1:21), dan hal ini terjadi melalui penebusan lewat darah-Nya (Mat. 26:28). Namun, Yesus bukan hanya penyelamat secara spiritual, melainkan juga penyelamat dari ancaman fisik, seperti penyakit dan kelemahan. Apa yang dilakukan Yesus menggenapi nubuat Yesaya bahwa Hamba Tuhan akan menyelamatkan manusia dari penyakit dan memikul segala kelemahan mereka (Yes. 53:4; Mat. 8:17). Bacaan Injil hari ini menekankan bagaimana Yesus sungguh peduli pada orang-orang sakit dan lemah. Ia memenuhi harapan mereka akan kesembuhan dan pemulihan.

Dikisahkan, begitu tiba kembali di Kapernaum, Yesus didatangi perwira Romawi di situ yang hambanya sedang sakit. Sebagai perwira yang perintahnya selalu dipatuhi anak buah, dia memohon kepada Yesus dengan sepenuh iman, “Katakan saja sepatah kata, hambaku itu akan sembuh!” Yesus tidak perlu repot-repot datang ke rumahnya, cukup bersabda saja dari jarak jauh! Iman yang sedemikian besar tidak pernah dijumpai Yesus di antara orang Israel. Karena itu, Yesus menyatakan bahwa kelak banyak orang bukan Yahudi yang akan ikut menikmati keselamatan yang disediakan Tuhan.

Memohon kesembuhan dari Yesus dengan penuh iman tidak berarti hanya dengan berdoa dan berserah, tanpa disertai dengan usaha. Keduanya sama sekali tidak bertentangan. Rahmat Tuhan mengandaikan usaha manusia. Kitab Bin Sirakh menegaskan, “Tuhan menciptakan obat-obatan dari bumi dan tidak diabaikan oleh orang yang arif … Dengannya tabib menyembuhkan dan melenyapkan derita, dan juru obat pun mengolah campurannya” (Sir. 38:4, 6). Jadi, Tuhan juga berkenan menggunakan sarana-sarana pengobatan untuk melanjutkan karya keselamatan-Nya bagi orang-orang sakit.