Tindakan Dasar Kristiani: Aneka Perbuatan Baik

Jumat, 20 Juli 2018 – Hari Biasa Pekan XV

166

Yesaya 38:1-6, 21-22, 7-8

Pada hari-hari itu Hizkia jatuh sakit dan hampir mati. Lalu datanglah nabi Yesaya bin Amos dan berkata kepadanya: “Beginilah firman TUHAN: Sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi.” Lalu Hizkia memalingkan mukanya ke arah dinding dan ia berdoa kepada TUHAN. Ia berkata: “Ah TUHAN, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapan-Mu dengan setia dan dengan tulus hati dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di mata-Mu.” Kemudian menangislah Hizkia dengan sangat. Maka berfirmanlah TUHAN kepada Yesaya: “Pergilah dan katakanlah kepada Hizkia: Beginilah firman TUHAN, Allah Daud, bapa leluhurmu: Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu. Sesungguhnya Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi, dan Aku akan melepaskan engkau dan kota ini dari tangan raja Asyur dan Aku akan memagari kota ini.”

Kemudian berkatalah Yesaya: “Baiklah diambil sebuah kue ara dan ditaruh pada barah itu, supaya sembuh!” Sebelum itu Hizkia telah berkata: “Apakah yang akan menjadi tanda, bahwa aku akan pergi ke rumah TUHAN?”

“Inilah yang akan menjadi tanda bagimu dari TUHAN, bahwa TUHAN akan melakukan apa yang telah dijanjikan-Nya: Sesungguhnya, bayang-bayang pada penunjuk matahari buatan Ahas akan Kubuat mundur ke belakang sepuluh tapak yang telah dijalaninya.” Maka pada penunjuk matahari itu matahari pun mundurlah ke belakang sepuluh tapak dari jarak yang telah dijalaninya.

***

Kalau Anda ditanya tentang tokoh-tokoh Perjanjian Lama seperti Abraham, Musa, Daud, dan Yunus, mungkin Anda tidak mengalami kesulitan untuk mengingat kisah tokoh-tokoh tersebut. Namun, bagaimana tentang Raja Hizkia? Apakah Anda mengenal orang itu?

Kisah hidup Raja Hizkia cukup menarik. Dia ini orang baik dan sangat beriman kepada Tuhan. Sang raja mengandalkan Tuhan dalam segala hal, bahkan sampai akhir hidupnya. Singkat kata, hidupnya sungguh berkenan di hadapan Allah.

Dalam bacaan pertama hari ini, kita bisa mendengarkan kisah akhir hidup Raja Hizkia. Ketaatan dan kepercayaannya kepada Allah mendatangkan rahmat dan berkat tersendiri baginya. Allah memberi kesempatan kepada Raja Hizkia yang pada waktu itu sedang sakit parah untuk menyampaikan pesan terakhir kepada keluarganya.

Di saat sakit mendera, Raja Hizkia berdoa kepada Tuhan. Ia berkata dengan penuh keyakinan bahwa ia telah hidup di hadapan Tuhan dengan setia dan tulus hati. Ia telah berjuang melakukan apa yang baik sebagai pemimpin umat Allah. Diceritakan bahwa saat itu Raja Hizkia menangis dengan hebatnya. Bisa kita rasakan di sini bahwa hati sang raja begitu murni dan perasaannya sangat halus.

Alasan mengapa Raja Hizkia sampai menangis tidak dijelaskan. Apakah ia terharu merasakan kasih setia Allah? Apakah ia belum siap untuk mati? Apakah ia belum rela dan ikhlas meninggalkan keluarganya? Semuanya tidak dikatakan dalam kisah ini. Yang jelas, keyakinan, kebaikan, dan ketulusan Raja Hizka diganjar Tuhan oleh perpanjangan usia sebanyak lima belas tahun. Raja Hizkia disembuhkan oleh Allah dan selama ia hidupnya, kerajaan yang dipimpinnya diselamatkan dari serangan bangsa Asyur.