Tuhan yang Akan Membalas

Senin, 5 November 2018 – Hari Biasa Pekan XXXI

443

Lukas 14:12-14

Dan Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia: “Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.”

***

Dalam masyarakat, kita mengenal kebiasaan saling mengirim parcel saat hari raya, saling mengirim undangan saat mengadakan pesta, atau saling mentraktir saat mendapatkan rezeki. Hal demikian biasa dilakukan di antara kenalan, entah rekan kerja, keluarga, atau teman-teman dekat. Yang mendapatkan undangan ataupun traktiran pasti merasa senang karena termasuk orang yang “diperhitungkan.” Tentunya dia sadar bahwa pada lain kesempatan giliran dialah yang kelak akan mengundang.

Budaya saling membalas kebaikan seperti itu juga berlaku dalam masyarakat Yahudi pada zaman Yesus maupun dalam budaya Yunani-Romawi pada umumnya. Di antara para sahabat, mereka saling mengundang dalam pesta. Hal demikian juga dilakukan oleh orang-orang bukan Yahudi. Karena itu, berbuat baik dengan motivasi saling membalas bukanlah sesuatu yang istimewa lagi bagi para pengikut Kristus.

Hari ini, Yesus yang tengah diundang dalam suatu perjamuan makan memberi pengajaran kepada si tuan pesta dan kita semua. Apabila mengadakan perjamuan makan siang atau malam, hendaknya kita lebih mengundang orang-orang yang tidak mampu membalas. Tentu hal ini bukan berarti kita sama sekali tidak boleh saling membalas undangan, sebab hal demikian lumrah saja dalam pergaulan pada umumnya. Namun, di sini Yesus menegaskan agar kita terutama mengundang orang-orang tidak akan mampu membalas undangan tersebut, yakni orang miskin, cacat, buta, dan timpang. Dengan mengundang dan menjamu mereka, kabar sukacita bagi orang miskin dan tersisih yang diwartakan Yesus sungguh terwujud (bdk. Luk. 4:18-19). Orang yang mengundang akan menerima ganjaran dari Allah sendiri pada saat kebangkitan orang-orang benar.

Tradisi Yahudi memang mengajarkan perhatian dan bantuan kepada orang-orang miskin. Namun, mengundang dan menjamu mereka dalam pesta adalah hal baru yang diajarkan Yesus. Dengan melakukan hal ini, si tuan rumah mengangkat martabat kaum tersisih yang kerap dianggap sebelah mata oleh masyarakat. Mengundang dan menjamu mereka yang terpinggirkan menuntut hal yang lebih dari diri kita. Kita dituntut lebih dari sekadar menyiapkan dan mengirimkan parcel bantuan.

Dalam konteks sekarang, semangat untuk berbuat baik kepada mereka yang kurang beruntung dan tidak mampu membalas kebaikan orang lain agaknya bisa diwujudkan dengan memberikan donasi untuk para korban bencana. Kunjungan dan pemberian donasi ke panti asuhan juga merupakan realisasi ajaran ini. Barangkali dalam skala kecil hal ini juga bisa dilakukan dengan memberikan bantuan dana pendidikan bagi anak yang kurang mampu di sekitar kita. Injil hari ini menegaskan, ketika kita memberikan kebaikan kepada mereka yang tidak mampu membalas, Tuhan sendirilah yang akan membalaskannya kepada kita.