Allah atau Mamon?

Sabtu, 10 November 2018 – Peringatan Wajib Santo Leo Agung

3536

Lukas 16:9-15

“Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.”

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?

Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.”

***

Berikut ini kesaksian seorang umat, sebut saja namanya Pak Andi. Kendati sudah lama menjadi Katolik, ia tidak mempraktikkan imannya. Pada waktu itu, ia terbiasa bermain judi. Menurutnya, setiap bertaruh ia pasti menang karena selalu mendapat bisikan gaib. Karena bergelimang harta, Pak Andi pun tergoda bermain wanita. Situasi ini membuat istrinya jatuh sakit, tetapi sakit yang “non medis.” Teman-teman sealiran berusaha membantu mendoakan istri Pak Andi, tetapi tidak juga berhasil. Singkat cerita, sang istri baru mulai pulih setelah didoakan oleh pastor paroki. Pengalaman iman ini membalikkan kehidupan Pak Andi. Ia kembali kepada iman Katolik. Di sini, ia menemukan sesuatu yang selama ini tidak dialaminya, yakni damai sejahtera.

Kisah Pak Andi melukiskan bagaimana kita ditantang untuk memilih mengabdi Tuhan atau Mamon. Kita tidak bisa mengabdi kedua-duanya seperti yang ditawarkan oleh teologi sukses. Menarik juga bahwa kita tidak diminta memilih antara Tuhan dan setan, melainkan Tuhan dan Mamon. Mamon sebenarnya uang atau harta dalam arti umum, tidak merujuk pada ilah atau dewa tertentu. Memang orang bisa terjebak dalam permainan kuasa kegelapan untuk mendapatkan harta yang melimpah. Namun, lebih banyak orang yang mengabdi Mamon dengan cara menipu, mencuri, merampok, memeras, dan tindak korupsi. Orang yang mengabdi Mamon menganggap bahwa dengan uangnya, ia bisa membeli segalanya. Dia menjadi lekat dengan harta miliknya.

Sebaliknya, orang yang memilih untuk mengabdi Tuhan akan melihat harta secara proporsional. Ia sadar bahwa uang hanya bernilai relatif. Dengan uang, ia bisa memenuhi kebutuhan hidup dan keluarga, tetapi uang tidak bisa membeli kesehatan, kebahagiaan, dan cinta (bdk. Pkh. 8:7). Mamon atau harta bahkan sebenarnya memiliki nilai sosial, yakni membantu mereka yang lebih membutuhkan.

Yesus menegaskan agar kita mengikat persahabatan dengan menggunakan Mamon yang tidak benar. Tentu yang dimaksudkan di sini bukan harta hasil ketidakjujuran, sebab harta pun sebenarnya bisa jadi diperoleh dari sistem ekonomi yang memeras orang miskin. Bagaimanapun Mamon yang tidak benar ini perlu digunakan untuk mengikat persahabatan, yakni membantu mereka yang miskin dan membutuhkan. Kalau itu kita lakukan, maka ketika kita kelak menghadap Tuhan, di mana harta tidak lagi bisa membantu kita, kita akan diterima dalam kemah abadi.

Ajaran Yesus itu dipandang sinis oleh orang Farisi, para hamba uang (Luk. 16:14). Mereka berkeyakinan bahwa harta mereka adalah tanda berkat dari Tuhan sebagai upah atas kesalehan mereka. Harta tersebut sekaligus sarana untuk meningkatkan status sosial mereka. Kendati demikian, Tuhanlah yang akan melihat hati seseorang, apakah ia lebih mengabdi Tuhan atau Mamon.

Hari ini kita memperingati Santo Leo Agung, Paus yang hidup di abad V, yang telah memimpin Gereja dengan tegas dari pelbagai ajaran sesat dan menyelamatkan Roma dari serangan bangsa Hun yang barbar. Dewasa ini pun umat Katolik bisa jadi terpikat oleh ajaran teologi kemakmuran dan teologi sukses yang mengajak mereka untuk mengabdi Tuhan dan Mamon sekaligus. Belajar akan ketegasan Santo Leo Agung, mari kita mendengarkan ajaran Tuhan untuk lebih memilih mengabdi kepada-Nya. Jangan mengabdi kepada Manon, tetapi gunakanlah Mamon sebagai sarana untuk memuliakan Tuhan juga.